Wisata Jabar

Mengungkap Keraton Surawisesa dengan Ekskavasi Situs Astana Gede Kawali, Ciamis




Terhitung lima hari sejak Selasa 9 September 2015, di kawasan Situs Astana Gede Kawali, Ciamis dilakukan ekskavasi atau penggalian di tempat yang mengandung benda purbakala. Hasil ekskavasi menunjukkan gambaran lebih jelas tentang adanya keraton Sunda di Situs Astana Gede Kawali. Ekskavasi tersebut dilakukan oleh tim gabungan, dari Unpad, UPI dan beberapa arkeolog dari Balai Arkeologi, dipimpin oleh sejarawan Prof. Dr. Nina Herlina Lubis.

Sebelum memimpin ekskavasi, Prof, Dr. Nina Herlina Lubis menyatakan bahwa berdasar peninggalan yang ada, semakin meyakinkan bahwa Situs Astana Gede Kawali, serupakan keraton. Dia juga mengatakan bahwa situs tersebut akan menjadi ikon sejarah di Jawa Barat, seperti halnya Situs Trowulan (peninggalan Kerajaan Majapahit) di Jawa Timur.

Kegiatan penggalian tersebut sekaligus untuk merekonstruksi Keraton Surawisesa yang merupakan pusat Kerajaan Galuh. Beberapa sumber menyatakan bahwa prasasti yang terdapat di Situs Astana Gede kawali tidak mencantumkan tahun. Sehingga tidak diketahui pasti kapan prasasti itu ditulis dan siapa yang menuliskannya.

Di kompleks Situs Astana Gede Kawali yang terletak di Dusun Indrajaya, Desa/Kecamatan kawali, Kabupaten Ciamis, setidaknya ada 6 buah prasasti, lokasi atau tempat penobatan raja-raja Kawali. Cikawali, mata air yang juga menjadi tempat suci keluarga keraton termasuk Putri Dyah Pitaloka. Sanghyang Maya datar, tempat raja memberikan petuah kepada rakyatnya.

Salah satu buktinya adalah adanya prasasti, yang selama ini sebagai tanda adanya sebuah kerajaan atau keraton. Kegiatan tersebut juga bakal kembali dilakukan pada bulan Oktober 2015. Adanya kepastian tersebut, sekaligus menepis bahwa keberadaan Keraton Surawisesa bukan hanya cerita kuno, maupun hanya ada dalam naskah. Hal tersebut harus dapat dibuktikan secara ilmiah tentang keberadaan keraton di kawasan Situs Astana Gede.