Wisata Jabar

Mengenal Istilah Dunia Mistis dan Hantu dalam Bahasa Sunda

share to whatsapp



Istilah nama-nama hantu dalam bahasa Sunda

Hal-hal yang mistis atau yang berhubungan dengan perhantuan memang selalu jadi bahan cerita yang menarik di setiap tempat. Setiap daerah juga negara-negara di dunia punya istilah-istilah tersendiri bagi dunia perhantuan dan mistis tersebut. Tak terkecuali di masyarakat Sunda sendiri, kisah-kisah dan kepercayaan terhadap hal-hal berbau hantu, mistis, takhayul, dan cerita horor secara turun temurun hingga jadi cerita rakyat sampai sekarang.

Namun, semua ini berasal dari kepercayaan dan mitos yang berkembang di masyarakat, terutama masyarakat tradisional. Pada akhirnya, dikembalikan lagi kepada urusan akidah dan tauhid masing-masing. Berikut ini beberapa istilah seputar dunia mistis dan hantu dalam bahasa Sunda:

1. Jurig
Ini artinya hantu dalam bahasa Indonesia. Jurig ini banyak jenisnya, dari pocong sampai kuntilanak. Jurig ini biasanya menakut-nakuti manusia dalam wujud buruk rupa, misalnya kuntilanak yang biasa ucang-ucangan di atas pohon sambil tertawa cekikikan dan bisa terbang melayang. Jurig ini biasanya muncul saat malam hari. Sama seperti di daerah lain, ada kepercayaan dan mitos tertentu terkait jurig ini. Beberapa pohon favorit "mangkalnya" misalnya di pohon asam, alpukat, beringin, randu, dan sebagainya.

Bahkan, beberapa tempat pun dianggap masih angker karena "dikuasai" oleh jurig tersebut. Bagi anak-anak, salah satunya dikenal ada istilah jurig jarian atau hantu di semak-semak. Hantu ini biasanya dipercaya bersembunyi di antara rimbunnya semak-semak atau pepohonan dengan muka yang sangat seram. Ini sebagai larangan secara tak langsung buat anak-anak agar tak main di area semak-semak.

2. Ririwa
Istilah ini biasa digunakan pada hantu marakayangan alias dari arwah yang meninggalnya tidak sempurna. Ririwa ini dipercaya muncul saat si mayit belum lama dimakamkan. Namun, ini kembali kepada keyakinan bahwa yang roh/arwah yang meninggal tidak akan kembli lagi ke alam dunia. Mungkin inilah karena keisengan jin nyiliwuri yang sukanya menganggu manusia.

3. Siluman
Siluman ternyata bukan saja milik orang Timur, seperti yang dituduhkan orang Barat. Dalam kesusastraan Inggris, misalnya, Shakespeare menyodorkan tokoh siluman gentayangan ayah Hamlet untuk memberi tahu siapa yang telah membunuhnya. Di Tanah Sunda pun dikenal kepercayan ada wilayah kekuasaan siluman, dari siluman buaya putih, siluman ular, sampai siluman dalam cerita legenda. Salah satunya cerita rakyat Sangkuriang (Tangkuban Parahu) yang membendung danau dengan bantuan siluman.

Menurut kolumnis Sunda, Atep Kurnia, dalam salah satu artikelnya disebutkan dalam jagat sastra Sunda modern, Moh. Ambri (1892-1936) adalah sastrawan yang mulai menulis novel bertema siluman. Beberapa karya novelnya di antaranya Burak Siluman (1932), Ngawadalkeun Nyawa (1933), dan Munjung (1933), dan satu lagi dia timba dari kebudayaan India, Pusaka Ratu Teluh (1932).

4. Nyegik sampai kecit
Masih berhubungan dengan siluman. Ada kepercayaan di sebagian masyarakat, dimana manusia yang ingin kaya mendadak bisa "kerja sama" dengan dunia gaib. Untuk itu ada dikenal adanya tempat-tempat pemujaan atau orang-orang pintar. Manusia tersebut bekerja sama dalam bentuk "kerja sama" menjadi siluman monyet (nyupang), siluman ular (ngipri), siluman babi hutan (nyegik), hingga memelihara tuyul (kecit).

5. Budak hideung
Ini kepercayaan akan adanya 'anak kecil hitam'. Konon penampakannya berupa anak kecil berkulit legam dengan rambut botak dan wajah menyeramkan. Biasanya makhluk halus ini muncul di tempat-tempat kotor dan angker seperti bangunan tua atau di kebun-kebun tak terurus. Sebagian percaya bila bertemu makhluk ini bakal sakit. Budak hideung ini biasanya bersuara sengau dan suka mengajak main.

6. Antara sanget dan ulah ngomong sompral
Istilah sanget mengandung arti dalam bahasa Indonesia 'angker'. Ini biasanya tempat-tempat tertentu yang dipercaya ada "penunggunya". Bila lewat ke tempat ini, manusia tidak boleh bicara sompral alias seperti menantang/sok jagoan.

Misalnya, bila sedang mendaki gunung dan melewati tempat sanget harus mengucapkan punten (permisi) serta tidak ngomong sompral yang memancing hal-hal tidak inginkan terjadi, seperti bicara: "Aing mah teu sieun ku jurig di tempat ieu!" (Saya tidak takut sama hantu di tempat ini!). Juga biasanya ada pantangan-pantangan tertentu yang harus diikuti. Atau bila lewat gedung tua, terasa suka geueuman (menakutkan/horor) sehingga muringkak (merinding bulu roma/bulu halus).

7. Ditangkeup eureup-eureup
Ini yang kadang jadi kepercayaan masyarakat, ditangkeup eureup-eureup. Pernahkah Anda saat tidur (biasanya saat tidur siang) badan tiba-tiba susah digerakkan walau Anda sendiri setengah sadar? Itulah kejadian ditangkeup eureup-eureup dalam bahasa Sunda. Konon, katanya saat seperti itu kita sedang ditindih sama makhluk halus.

Situasi makin mencekam kala napas tak bisa diatur karena benda berat yang menindih, dan pemilik raga pun tak berdaya. Mulut yang biasa begitu lancar berbicara, saat itu tak mampu mengeluarkan sepata kata. Halusinasi aneh-aneh juga muncul seperti sosok yang menyeramkan menghinggapi pandangan mata. Uniknya, kejadian ini pun terjadi di belahan dunia lain lho.

Dalam dunia sains, para ahli di bidang psikologi serta neurologi sudah sejak lama menjawab fenomena kelumpuhan sementara saat tidur ini. Kelumpuhan tidur adalah gangguan dari fase tidur REM. Fase REM adalah fase puncak saat seseorang sedang nyenyak dan sebagian orang melewatinya dengan mimpi. Selama fase REM, otot-otot tubuh sedang diistirahatkan sehingga seolah-olah raga sedang lumpuh.

Istilah “paralysis” menggambarkan manakala kondisi otak sudah sadar, tapi tak mampu menggerakkan anggota tubuh. Kelumpuhan tidur seringnya dialami orang yang gampang panik, sebanyak 35 persen pernah mengalami kondisi ini setidaknya sekali dalam seumur hidup.

**
Sebenarnya masih banyak lagi istilah-istilah seputar dunia hantu dan mistis dalam bahasa Sunda. Berhubungan dengan hal tersebut, ada juga beberapa kegiatan pantrangan (pantangan) yang bersifat pamali (larangan) dalam kepercayaan masyarakat Sunda, agar tidak "memancing" datangnya/gangguan makhluk halus, beberapa diantaranya:
- Jangan bersiul pada malam hari atau di tengah hutan
- Jangan bernyanyi di kamar mandi, karena itu kesenangan jurig/setan.
- Dilarang buang air kecil sembarangan, apalagi di tempat seperti di lubang tanah.
- Jangan buang air kecil di tempat-tempat angker, misal di bawah pohon beringin.
- Jangan membicarakan seputar makhluk halus di gunung, karena dipercaya gunung adalah tempat kumpulnya ragam makhluk astral.
- Segera masuk ke rumah saat adzan magrib berkumandang, tutup pintu dan jendela dengan rapat.
- Jangan banyak melamun, nanti kasurupan (kesurupan).
- Jangan buang pembalut sembarangan karena darahnya akan "disedot" hantu.
- Jangan membakar terasi karena itu berarti mengundang kuntilanak datang.
- Jangan menyisir rambut atau memotong kuku malam hari.
- Bila sedang sendirian, ada suara seperti yang memanggil dari belakang tapi tak jelas, jangan menoleh dan menjawabnya.

------
Kumpulan artikel Belajar Bahasa Sunda lainnya LIHAT DI SINI


share to whatsapp