Wisata Jabar

Situs Batujaya, Menguak Sejarah Peradaban di Tatar Sunda




Jawa Barat menyimpan potensi wisata sejarah yang jika dikelola maksimal bisa jadi salah satu destinasi wisata unggulan. Salah satu lokasi yang potensial untuk dikembangkan dan dipromosikan yakni area Situs Batujaya di Karawang. Di area situs ini terdapat Candi Jiwa peninggalan Buddha kuna.

Lokasi situs Batujaya terletak di persawahan dan sebagian di dekat permukiman penduduk. Kini, situs yang berkaitan dengan sejarah peradaban di Tatar Sunda ini sedang digarap oleh Pemprov Jawa Barat untuk menjadi salah satu destinasi wisata Nasional.

Penelitian Situs Batujaya
Pada tahun 1684 Masehi kawasan situs Batujaya hanyalah berupa rawa yang dibiarkan. Pada tahun 1706 Masehi atas perintah pemerintah Kolonial Belanda, daerah ini dibersihkan dan dijadikan areal persawahan dan perkebunan. Situs Batujaya mulai didatangi para arkeolog pada 1952 saat ditemukan sisa-sisa candi di Cibuaya yang letaknya tak jauh dari situs Batujaya.

Pemerintah kolonial Belanda tak pernah memetakan keberadaan situs percandian Batu Jaya karena dianggap tak ada. Pada 1952, barulah para petani melaporkan ada penemuan benda bersejarah di Cibuaya.

Barulah pada 1984, melalui peninjauan lapangan, Prof. Dr. Ayatrohaedi  dari Fakultas Sastra Universita Indonesia. Adik kandung sastrawan Sunda Ajip Rosidi ini menemukan sSitus Batujaya. Pada tahun 1985, oleh Prof. Dr. Mundardjito, Situs Batujaya dijadikan lahan Kuliah Kerja Lapangan bagi para mahasiswa arkeologi Universitas Indonesia.

Dua profesor itu bersama Hasan Djafar mulai melakukan penelitian intensif di kawasan Batujaya. Inilah situs yang terbilang lengkap untuk diteliti karena banyaknya penemuan yang ada di area ini.

Lokasinya pun tak jauh dari pantai utara Jawa Barat dan berjarak sekitar 500 meter di utara Sungai Citarum. Ini menandakan bahwa dahulu kala tempat ini pernah menjadi pusat peradaban masyarakat Karawang.  Candi di situs Batujaya tidaklah utuh secara umum sebagaimana layaknya sebagian besar bangunan candi.

Bangunan-bangunan candi tersebut ditemukan hanya di bagian kaki atau dasar bangunan, kecuali sisa bangunan di situs Candi Blandongan. Keunikan ciri bangunan candi ini beda dengan candi yang umum di Indonesia dimana di sini menggunakan batu bata.

Profil Candi Jiwa dan Candi Blandongan
Candi yang ditemukan di situs ini seperti Candi Jiwa, struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti bunga padma (teratai). Pada bagian tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha. Pada candi ini tidak ditemukan tangga sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Bentuk seperti ini adalah unik dan belum pernah ditemukan di Indonesia.

Di sini pun terdapat Candi Blandongan. Jika Candi Jiwa merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara, Candi Blandongan adalah peninggalan Sriwijaya dan Tarumanegara. Candi Blandongan pun memiliki unik dengan bahan batu berwarna merah tak seperti candi lainnya yang dari batu biasa. Di Candi Blandongan ada penemuan benda bersejarah, Amulet dan Gerabah Buni. Amulet yaitu jimat yang ditanam seseorang saat seseorang mengunjungi suatu tempat.

Dalam amulet  diceritakan Dewa Brahmana berdiri di sebelah kanan dan Dewa Cakara di sebelah kiri. Sementara raja Nanda dan Upananda menciptakan tempat duduk berbentuk lotus bagi Budha Amitabha.  Di sini pun ditemukan lempengan emas 16 karat dengan tulisan Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Candi Blandongan juga banyak ditemukan rangka-rangka manusia. Beberapa rangka tersebut ditemukan dalam keadaan masih menggunakan perhiasan di antaranya berupa manik-manik dari tanah, kaca, dan batu.

Berdekatan dengan Situs Batujaya terdapat Situs Cibuaya. Situs Cibuaya berjarak sekitar 15 km di arah timur laut. Situs ini merupakan peninggalan bangunan Hindu dan situs temuan pra-Hindu "kebudayaan Buni". Diperkirakan situs ini berasal dari masa Abad I Masehi.

Sementara situs agama Buddha di sini dahulu, ditengarai aspek kesejarahan dimana dulu adanya kota pelabuhan besar yang menjadi pusat perdagangan internasional. Sebuah berita dari Abad ke-3 yaitu kitab Nan Chao I Wu Chih menyebutkan sebuah toponimi Ko-ying yang merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan internasional di daerah Karawang, Jawa Barat.

Rute ke Situs Batujaya, Karawang
Secara administratif, lokasi situs Batujaya terletak di dua wilayah yakni Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Talagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang. Luas situs Batujaya  ini diperkirakan 5 kilometer persegi. Area Candi Batujaya sendiri menurut penelitian, dahulunya merupakan danau. Sementara Candi  Batujaya didirikan di tepi danau. Danau ini terbentuk akibat beralihnya Sungai Citarum dari arah utara ke barat laut.

Untuk mencapai kawasan situ ini, dari arah Jakarta dapat dicapai dengan mengambil Jalan Tol Cikampek. Lalu, keluar di gerbang tol Karawang Barat dan mengambil arah ke Rengasdengklok. Selanjutnya, ke arah Batujaya. Lihat peta lokasi di sini.