Wisata Jabar

Replika Menara Eiffel dari Bambu, Primadona Objek Selfie di Tasikmalaya




Ada yang baru di Kabupaten Tasikmalaya. Jika anda sedang jalan-jalan di sekitaran  Tasikmalaya, tak ada salahnya untuk datang ke Kawasan Gedung Setda Kabupaten Tasikmalaya. Karena kini, di kawasan tersebut ada replika menara Eiffel. Replika menara Eiffel ini hampir mirip dengan yang ada di kota Paris, Perancis.

Replika ini merupakan salah bentuk kamotekaran (kreativitas) urang Tasikmalaya. Di tempat ini kini banyak orang yang berfoto selfie dengan latar replika menara Eiffel versi bambu tersebut. Tak heran jika kini ada ungkapan: "Belum sah ke Tasik, kalau belum berfoto di replika menara Eiffel".

Menara ini turut menghiasi event Tasik Motekart yang mengambil tempat di Gedong Bupati Kab. Tasikmalaya, Singaparna. Event ini berlangsung dari 18 Desember hingga 31 Desember 2015.Tasik Motekart 2015 gelaran festival, seni, budaya dan pameran juga sebagai Hajat Maulud warga Tasikmalaya dibuka secara resmi Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum.Festival Tasik Motekart hadir atas prakarsa dari Soekapoera Institute (SI). Bupati Tasikmalaya memandang bahwa gelaran seperti ini bisa saja dikukuhkan menjadi agenda tahunan dari Kabupaten Tasikmalaya. Video kegiatan Tasik Motekart bisa di lihat di bawah artikel ini.

Tinggi 35 Meter
Replika menara Eiffel yang berada di Kompleks Kantor Bupati, Desa Sukaasih, Kec. Singaparna tepatnya ini terbuat dari bambu yang disusun sedemikian rupa dengan tinggi lebih kurang 35 meter, dibuat oleh seniman-seniman muda Tasikmalaya. Bambu yang digunakan untuk membangun replika menara Eiffel ini konon katanya sebanyak 1.000 buah bambu. Pada malam tahun baru kemarin, menara ini semakin eksotis dengan hiasan warna-warni dari kembang api yang menghiasi langit.

Tepat di bawah menara tersebut bisa dilalui oleh kendaraan, karena di bawah menara merupakan jalanan. Kini menara Eiffel Tasikmalaya menjadi destinasi wisata bagi masyarakat yang ingin melihat kemegahan replika menara Eiffel, tak sedikit wisatawan dari luar daerah Tasikmalaya juga berdatangan terlebih malam hari menara tersebut dihiasi cahaya lampu.

Promosi Kerajinan Bahan Bambu
Jika melihat bambu sebagai bahan membuat replika Eiffel tersebut, ini sebagai media promosi juga bagi Tasikmalaya. Kita kenal Tasikmalaya sebagai sentra orang-orang kreatif yang terkenal dengan produk kerajinan tangan, salah satunya berbahan bambu. Salah satu sentra kerajinan bambu ada di Situ Beet, Kerajinan anyaman bambu di Situbeet sudah ada sejak Tahun 1933.

Mulai tahun 1982 anyaman bambu memiliki nilai ekonomis, yang pada awalnya bambu hanya dijual batangan atau istilah leunjeuran. Bambu-bambu batangan tersebut dipotong, dibelah, dan disisit menjadi lembaran-lembaran kecil atau biasa disebut ngahua oleh para pengrajin anyaman di Situ Beet, kemudian dicelup/diwarnai, yang akhirnya dianyam menjadi beberapa perabotan rumah tangga.

Pada awal tahun 1992 kerajinan anyaman bambu mulai berkembang pesat, kerajinan anyaman bambu mulai dikembangkan oleh Bapak H. Abdullah yang memiliki perusahaan dengan nama Situ Beet Kerajinan Bambu atau biasa orang menyebutnya SKB. Tangan-tangan terampil para pengrajin anyaman bambu di Situbeet yang mengubah bambu batangan menjadi kerajinan anyaman bambu yang memiliki nilai fungsi disamping itu juga unik dan manarik.

Pernah Dibuat
Jauh sebelum zaman foto selfie sekarang, H. Van Bebber, seorang pengawas air pemerintahan Belanda. Ia membangun replika Menara Eiffel di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 1898. Konon menara setinggi 50 meter ini dibuat untuk menghormati penobatan Ratu Wilhelmina yang berkuasa sejak 1898 sampai 1948. Pada masa itu, Indonesia memang mengalami penjajahan dari Belanda.