Wisata Jabar

Kesenian Genye dan Manusia Tanah Khas Purwakarta



Kesenian Genye merupakan kreasi seni baru yang diciptakan oleh seniman-seniman Purwakarta. Genyé adalah singkatan dari “Gerak Nyéré”, yakni semacam badawang dan lebih mirip dengan orang-orangan (bebegig). Genye terbuat dari bermacam-macam benda dan alat seperti ayakan, sapu lidi, anyaman daun pandan dan sebagian anyamannya dibiarkan terurai, sapu ijuk atau songket, dan lain-lain. Benda-benda tersebut disusun sedemikian rupa sehingga meyerupai orang. Ada bagian kepala, rambut, leler, bahu, badan, tangan, dan bokong.

Bagian kepalanya terbuat dari ayakan kecil dan sebagai rambutnya dibuat dari sapu lidi atau sapu ijuk. Badannya (bagian perut) dibuat dari ayakan yang lebih besar dari kepala. Bagian pinggangnya terbuat dari sapu dan anyaman yang bagian bawahnya sengaja dirumbaikan mirip dengan rok wanita. Sedangkan tangan dan jari-jarinya terbuat dari sapu padi (merang) dan diberi pegangan yang mirip dengan tuding wayang golek atau wayang kulit. Agar dapat berdiri tegak, bagian-bagian anggota tubuh itu di belakangnya disangga oleh sebatang bambu sehingga bisa berdiri tegak.

Penyangga itu sekaligus berfungsi untuk memperkuat ikatan di punggung pemain agar tidak bergoyang jika dimainkan. Ketika genyé sudah diikatkan ke punggung salah seorang pemainnya, ia akan tampak menjulang melebihi tinggi pemainnya. Sementara itu, bagian tangan genyé yang berjuntai dimainkan sedemikian rupa agar kelihatan seperti layaknya seseorang yang tengah menari.

Genyé adalah sebuah pesan moral agar kita peduli tentang kebersihan lingkungan. Genyé adalah properti baru yang khusus dipakai untuk kepentingan arak-arakan. Pembuatannya diilhami oleh seorang pedagang sapu yang mengandung makna sebagai gerakan untuk membiasakan  hidup bersih.

Kesenian Genye menerapkan konsep arak-arakan yang dibuat lebih semarak. Personil yang terdiri dari Rakyat Nyere, Prajurit Nyere, Raja Nyere, Anak-anak kecil hingga penabuh alat musik yang bernuansa sunda sangat atraktif.

Pada beberapa kali kesempatan pintonan Kesenian Genye selalu bersama manusia tanah yang mendampingi. Seperti pada hari Jadi Kota Bogor ke-553 di Bogor, dalam Festival Seni Budaya Sunda.  Kesenian Genye garapan seniman Purwakarta bersama Kang Dedi tampil dengan kostum kain karung sapu lidi dan balutan lumpur sawah pada sekujur tubuh anak-anak.

Gerak para bocah penuh lumpur menarik warga yang memadati sepanjang bahu bahu jalan rute karnaval. Sesekali kostum lumpur pada anak anak pemeran Keseniaan Genye tampak jenaka dan terkesan horor. Praktis, penonton pun lari tunggang langgang disertai jeritan ketakutan saat anak anak lumpur bermaksud memeluk mereka.

Musik khas  Sunda yang mengiringi gerak Keseniaan Genye disertai seorang penyanyi atau sinden dg syair lirik Sunda membuat kesan pada makna dibalik Keseniaan Genye. Manusia tanah khas Purwakarta merupakan kreasi yang diciptakan untuk memperkenalkan Kabupaten Purwakarta sebagai penghasil keramik.