Wisata Jabar

Catatan Seputar Pariwisata Jawa Barat Sepanjang 2017





Menjelang berakhirnya tahun 2017, beberapa catatan seputar wisata di Jawa Barat perlu kiranya kami buat. Hal ini sebagai bahan evaluasi, juga bahan masukan bagi pengelola wisata, pemerintah terkait, maupun masyarakat. Adapun bahan tulisan ini berasal dari masukan para pengunjung wisatajabar.com baik via e-mail maupun medsos yang kami kelola. Juga dari pantauan dan wawancara langsung dengan para wisatawan di berbagai tempat wisata.

Catatan ini menyajikan hal-hal perkembangan positif juga permasalahan wisata di Jawa Barat. Dan tidak semua permasalahan kami sajikan di sini karena keterbatasan ruang. Berikut ini catatan wisata Jawa Barat sepanjang 2017:

1. Pola ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)
Memang banyak tempat wisata baru yang hadir di Jawa Barat. Namun melihat kecenderungan (terutama wisata alam) masih tuturut munding alias "menjiplak" dari tempat wisata lainnya yang duluan ngehits. Hingga tak heran bila spot-spot tempat wisata terlihat seragam, terutama untuk destinasi wisata alam yang ada di pegunungan/perbukitan.

Hal ini disebabkan tren tersebut tumbuh karena ada tuntutan pasar seiring bersawafoto alias selfie memang jadi fenomena kekinian. Tempat-tempat wisata pun banyak yang membuat spot/fasilitas selfie dari berupa sangkar burung, rumah mini, area hewan ternak, jembatan gantung, hingga gardu pandang. Maka, di medsos bertebaranlah foto dengan latar spot-spot wisata sejenis, walau tempat-tempat wisata tersebut berada di daerah berbeda.

Memang tak jadi soal, malah menjadi alternatif wisata dimana tidak harus jauh-jauh ke tempat wisata yang ada di daerah lain untuk sekadar mengabadikan tempat wisata ngehits tersebut dengan swafoto. Namun, hal ini menimbulkan kecenderungan kebosanan. Untuk itulah, pengelola tempat wisata dituntut untuk selalu berinovasi dalam menyajikan spot-spot menarik yang tidak itu-itu saja.

Selain itu, konsep wisata terpadu pun kini jadi primadona. Misalnya di tempat wisata tersebut ada kolam renang, penginapan, sentra souvenir, kantin, area gathering, panggung pertunjukan, mushola, saung-saung, hingga spot berfoto. Sampai inovasi dengan wisata kuliner dan belanja oleh-oleh pun penting.

Kecenderungan untuk makanan di tempat wisata kebanyakan membosankan wisatawan. Lihat saja di tempat-tempat wisata sepertinya sudah "menu wajib" dengan keseragaman para penjual menjual: mie instant, teh botol, sosis bakar, dan lainnya yang cenderung stagnan dari waktu ke waktu. Mengapa tidak mencoba menyajikan varian kuliner, seperti dengan mengangkat kekhasan kuliner daerah setempat? Ini sedang jadi tren dimana wisatawan luar kota banyak yang tertarik untuk menjajal kekhasan kuliner setempat.

2. Masalah pengelolaan dan akses ke tempat wisata
Ini yang jadi soal, salah satunya kurangnya pemerintah daerah dalam mendukung potensi tempat wisata yang sedang viral di media sosial. Memang, tren tempat wisata zaman kekinian mau tak mau bersumber dari tenar tidaknya di medsos seperti Instagram. Tak peduli tempat wisata tersebut berada jauh dan aksesnya susah. Hal ini karena "penemu" tempat-tempat wisata baru adalah para netizen yang didominasi kaum muda.

Sebetulnya bila jeli, ketika suatu tempat wisata baru sedang naik daun, masyarakat bisa mengelola sendiri dengan tentunya didukung oleh pihak desa, kecamatan, hingga kabupaten sekalipun. Konsep pemberdaayaan masyarakat di zaman sekarang rasanya lebih pas dipakai untuk mengelola tempat wisata (bila belum bisa dikerjasamakan dengan pihak swasta).

Inilah yang akhirnya memunculkan kemalasan para wisatawan untuk datang. Memang para calon pelancong tertarik sekali untuk mendatangi tempat wisata tersebut, namun setelah melihat aksesnya kebanyakan mundur, kecuali yang benar-benar berjiwa petualang.

3. Eksploitasi wisatawan
Ini yang kadang bikin jengah. Apalagi saat musim liburan panjang (Tahun Baru, Lebaran, Imlek, liburan sekolah), momen tersebut sepertinya bagi sebagian masyarakat/pengelola sekitar tempat wisata menjadi ladang basah untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Saat masuk tempat wisata, para pelancong dihadapkan dengan tarif masuk tempat wisata yang meroket; makanan dan minuman yang harganya kadang tak wajar; biaya parkir membengkak; belum lagi bila di lokasi wisata harus kembali bayar ini-itu. Kondisi inilah yang bikin wisatawan kapok untuk kembali datang ke tempat wisata tersebut. Wisatawan lokal saja kapok, apalagi dengan turis asing yang dari segi tarif pun sudah dibedakan dengan wisatawan lokal.

4. Masih belum ramah internet
Zaman dimana hampir sebagian orang mencari informasi di smartpohone sebetulnya jadi media yang potensial untuk mempromosikan wisata. Entah itu dengan memasang informasi lokasi wisata di Google Maps atau Google Business juga punya akun official di Facebook, Instagram, atau Twitter. Para netizen biasa mencari informasi wisata tersebut untuk mendapatkan informasi seputar lokasi, rute, nomor kontak, harga tiket, hingga fasilitas.

Pengelola tempat wisata sebaiknya aktif update tentang tempat wisatanya di media sosial. Apalagi bila adminnya ramah dan sigap menjawab pertanyaan para pengunjung online. Untuk promosi lebih lanjut bisa menggunakan AdWords, Facebook/Instagram Ads, atau kolaborasi dengan reviewers seperti dengan wisatajabar.com ini. Tulisan review dengan blogger atau pengelola akun medsos, bakal jadi daya booster untuk lebih menarik perhatian para pengunjung.

5. Mulai bermunculan potensi wisata di beberapa daerah
Di balik permasalahan yang ada, beberapa daerah di Jawa Barat mulai bersaing satu sama lain. Geliat tempat wisata baru ini kini semakin terbuka dengan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu, misalnya di Bandung dan Pangandaran. Kota lain seperti Purwakarta mulai unjuk gigi dalam urusan wisata, baik wisata alam,kuliner, maupun event.

Kota lainnya yang mulai terlihat eksistensi pergerakan di penelusuran internet ada Majalengka, Sumedang, Tasikmalaya, dan Kuningan. Ada juga potensi lain yakni wisata jalur selatan (selatan Sukabumi - Cianjur - Garut - Tasikmalaya - Pangandaran). Hanya saja, gerakan pemerintah daerah dan masyarakatnya belum terlalu optimal.

Dari berita-berita yang beredar selama 2017, terutama untuk potensi wisata Geopark Ciletuh baru "di-booster" oleh pihak Pemprov Jabar. Dan daerah lain seperti jalur Cidaun - Santolo - Rancabuaya - Cipatujah - sampai Pangandaran baru terangkat bahwa akses jalan ke sana sudah mulus. Ini perlu usaha lebih untuk lebih mempromosikan potensi apa saja yang ada di jalur tersebut.

7. Perhatikan kenyamanan fasilitas dan dituntut ramah anak
Ini yang bikin wisatawan memberi citra negatif pada tempat wisata yang dikunjunginya. Dari tempat parkir yang sempit; toilet kotor; mushola kecil dan apek karena mukena atau sajadah tidak rutin dicuci (atau bahkan tidak tersedia); hingga sampah berserakan di mana-mana.

Juga sebagian tempat wisata kurang ramah terhadap wisatawan keluarga yang bawa anak. Untuk tempat makan,  adakah kursi tinggi khusus anak? Ada ruang bermain anak (playground)? Apakah ruangan/area tersebut bebas rok*k? Apakah anak bisa tidur nyaman kalau berkunjung ke tempat tersebut? Adakah area untuk ruang menyusui bagi para ibu?

8. Catatan wisata Bandung
Khusus Bandung sebagai gerbang pergerakan wisatawan ke daerah lainnya, masih juga menyimpan permasalahan dalam sektor wisata. Walau dengan mengusung "Stunning Bandung", rasanya belum optimal dari segi kenyamanan wisata. Ini terutama urusan aksesisibilitas dimana kemacetan masih jadi persoalan. Apalagi saat musim hujan yang kurang bersahabat bagi dunia wisata.

Namun satu persoalan akses ke daerah Ciwidey mulai diurai dengan hadirnya Tol Soreang-Pasirkoja. Untuk akses keluar GT Kopo sekarang bisa diantisipasi dengan adanya tol Soroja. Akan tetapi, setelah keluar Soreang menuju Ciwidey apakah masalah selesai? Akses jalan Soreang ke Ciwidey sepertinya bakal menghadirkan masalah baru dengan adanya tumpukan kendaraan karena bottle neck. Maklum saja akses ke kawasan wisata favorit di Bandung selatan tersebut masih belum memenuhi standar untuk perjalanan wisata, apalagi untuk bus-bus besar. Selain rutenya menanjak, jalannya masih sempit.