Wisata Jabar

Paduan Seni dan Humor Sunda Ala Mang Utun dan Mang Dekok




Seni Sunda buhun nyaris punah akibat banyak ditinggalkan masyarakatnya sendiri, terutama generasi muda. Sebagai seni yang menjadi kekayaan budaya lokal, seni Sunda buhun terus kehilangan penerusnya akibat para pelaku seninya kurang mendapat tempat dan dihargai publik.

Desakan dominasi seni pop modern mungkin dianggap lebih menarik oleh kaum muda zaman sekarang. Ya, walaupun di balik itu ada juga sebagain generasi muda sekarang yang masih peduli dengan akar seni budaya di tanah kelahirannya tersebut.

Termasuk generasi sekarang mungkin kurang begitu akrab dengan kedua seniman ini. Pada era '80-'90-an duet kacapi jenaka ala banyolan Sunda ini begitu dikenal oleh masyarakat. Kecapi jenaka Mang Utun dan Mang Ukok kerap mengocok perut penonton dengan gaya penyajiannya yang sangat lucu.

Dengan media kacapi plus lagu dan beluk, keduanya mampu mengangkat kesenian Sunda buhun ini sebagai media hiburan yang digemari masyarakat. Sayangnya, profil kedua seniman ini kurang terekspos sehingga masyarakat pun kurang mengenal betul sosok asli kedua seniman seni dan humor Sunda ini.

Biografi Mang Utun dan Mang Dekok
Berdasarkan info dari beberapa sumber, Mang Utun bernama asli Mang Udju, lahir tahun 1931 di Ciwaru Lebak Wangi Banjaran Kabupaten Bandung. Untuk profil seniman ini, termasuk sulit dicari sumber referensi seputar kehidupannya. Sementara pasangannya Mang Dekok/Mang Ukok bernama asli Dayat Hidayat.

Kini, kedua pejuang seni Sunda buhun tersebut telah tiada. Terakhir, Mang Dekok alias Dayat Hidayat tahun 2012 lalu telah wafat pada usia 76 tahun. Almarhum dimakamkan di TPU Ciburuy tidak jauh dari rumahnya. Kedua seniman Sunda ini terhitung sesepuh dan maestro kesenian Kacapi Jenaka Sunda.

Almarhum yang dikenal dengan nama panggung Mang Dekok atau Mang Ukok lewat grupnya Kacapi Janaka Utun Ukok, meninggal dunia Sabtu, 11 Februari 2012, pukul 11.35 WIB di rumah duka di Gang Haji Ahmad No. 34 RT 06 RW 05 Kel. Ciseureuh, Kec. Regol, Kota Bandung.

Kacapi Jenaka Sunda
Kecapi Jenaka Sunda merupakan seni pertunjukan yang menyajikan lagu- lagu jenaka diiringi petikan kecapi dengan irama bebas. Dalam pementasannya, keduanya selalu mempergunakan waditra kacapi siter. Penampilan jenaka Sunda penampilannya komunikatif dengan penonton suasana penuh kegembiraan dengan lagu-lagu humor dengan penampilan mimik plus celetukan gaya banyolan Sunda yang lucu sehingga para penonton pun bisa ngakak. Pada 1994-1997, kedua seniman Sunda ini kerap mengisi acara-acara pembukaan MTQ, ulang tahun kantor, hingga acara-acara pemerintahan.

Seni Beluk
Sementara kesenian beluk banyak terdapat di daerah pegunungan Kabupaten Bandung dan Daerah Kabupaten lainnya yang artinya sora dieluk-eluk. Seorang pemain beluk harus kuat dalam memainkan suara keras panjang.

Beluk dapat juga disebut macapat/membaca cepat-cepat atau dikenal juga maca bari ngajepat (membaca sambil terlentang). Filosofinya nenek moyang Sunda menyimbolkan badan manusia terdiri empat elemen: air, api, angin, dan tanah yang semuanya wujud pemberian Tuhan yang harus manusia pelihara.

Macapat biasanya dipergunakan dalam acara 40 bayi lahir mengadakan syukuran kepada Tuhan YME dan diselenggarakan malam hari. Beluk diambil dari pupuh Sunda (Kinanti, Sinom, Asmarandana, Dangdanggula) dan ceritanya bersumber pada naskah wawacan.

Sementara pertunjukan beluk sebetulnya biasa dibawakan oleh empat orang atau lebih. Dalam hal ini, satu orang bertugas sebagai pembaca kalimat-kalimat dari wawacan. Kemudian ada juru Ilo yang menyanyikan dari bacaan tersebut dengan lagu pupuh satu per satu.

Adapun kostum yang dikenakan biasanya memakai baju kampret/baju takwa dengan paduan sarung atau celana panjang, dan kopiah atau iket. Karena naskah wawacan yang dibawakan panjang, para pelantun biasanya membawa buku /naskah wawacan.