Wisata Jabar

Pepatah Hidup dalam Peribahasa Bahasa Sunda dan Maknanya

share to whatsapp



Pepatah dalam bahasa Sunda
Meskipun zaman sudah maju, namun nilai-nilai kehidupan haruslah tetap dipegang teguh. Orang tua zaman dulu telah memberikan nasihat-nasihat seputar nilai-nilai hidup melalui bahasa Sunda. Tak terkecuali karuhun (leluhur) Sunda pun meninggalkan nasihat-nasihat kehidupan berupa peribahasa.

Nasihat-nasihat kehidupan tersebut di masyarakat Sunda terdapat dalam babasan dan paribasa. Ya, walaupun dalam kondisi kekinian babasan dan paribasa tersebut semakin jarang dipakai dalam penggunaan sehari-hari. Namun alangkah lebih baiknya bila kita mencoba mengenal peribahasa warisan leluhur tersebut.

Babasan merupakan ucapan yang lebih pada aspek konotasi. Dalam babasan sudah pasti patokannya (bahasa pakeman) serta digunakan pada arti pinjaman. Dengan demikian, bukan arti yang sebenarnya alias lebih pada perbandingan dari sifatnya satu benda atau keadaan dan sudah menjadi satu kesatuan kalimat. Babasan diucapkan dalam situasi tertentu sebagai pangeling (pengingat) akan perilaku yang sebaiknya dilakukan ataupun mencegah perilaku yang dilarang. Kalimat dalam babasan pun biasanya lebih pendek dibanding paribasa.

Adapun paribasa lebih kepada perumpamaan yang menitikberatkan pada hal berbuat baik, melarang perbuatan buruk, ataupun hal lainnya yang berisi petuah nilai-nilai kehidupan. Berikut ini beberapa contoh babasan dan paribasa.

Contoh babasan:
1. Panjang leungeun: panjang tangan.
Artinya: suka mencuri, ini sama dengan peribahasa yang ada dalam bahasa Indonesia
2. Bisa lolondokan: bisa seperti bunglon.
Artinya: bisa mengikuti atau menempatkan diri dengan kebiasaan orang lain supaya akrab.
3. Nyalindung ka gelung: berlindung pada sanggul.
Artinya: suami yang dinafkahi istrinya.
4. Ngadu angklung: mengadu angklung
Artinya: banyak saling omong yang tiada gunanya (kosong, dimana angklung sendiri di dalamnya sendiri kosong).
5.Hampang birit: ringan bokong
Artinya: tidak malas, mudah disuruh
6. Biwir nyiru rombéngeun (tepian nyiru rusak): cerewet, semua rahasia diceritakan. Nyiru sendiri merupakan peralatan dari bambu, biasa dipakai untuk membersihkan beras.
7. Buburuh nyatu diupah emas: belajar tetapi sambil minta diberi upah padahal gunanya untuk dirinya sendiri. Buburuh artinya bekerja pada orang lain, nyatu: makan (bahasa kasar).
8. Élmu tumbila (tumbila = kutu busuk): pribumi merugikan tamu. Ini layaknya kutu yang ikut hidup di kita, namun keberadaannya merugikan.
9. Hadé gogog, hadé tagog: halus bahasanya dan baik sikapnya. Gogog sebenarnya istilah untuk bersuara, misal pada anjing (ngagogog).  Tagog, artinya tampilan/sikap.
10. Heuras létah (keras lidah): hatinya keras, omongannya kasar.
11. Kandel kulit beungeut (tebal kulit muka): Tidak punya rasa malu.
12. Katuliskeun jurig (jurig = hantu): asalnya main-main jadi serius. Misalnya yang ngomong secara bercanda bahwa temannya akan kecelakaan, eh ternyata benar celaka.
13. Kudu boga pikir kadua leutik (harus punya pikir kedua yang kecil): harus punya rencana/pikiran lain atau alternatif.
14. Lungguh tutut (pendiam keong sawah): Sepertinya pendiam padahal liar/nakal. Bila dilihat, keong sawah jalannya memang lambat dan pendiam, namun satu kotak sawah bisa dia jelajahi.
15. Pindah cai pindah tampian (pindah air, pindah tempat mandi): pindah tempat pindah adat, menyesuaikan dengan adat dan kebiasaan di tempat baru (lain padang lain ilalang).

Contoh paribasa:
1. Ati mungkir beungeut nyanghareup: hati menolak, wajah di depan.
Artinya: Pura-pura. Di hadapan seperti bersikap baik, tetapi di belakang sebaliknya.
2. Caina hérang, laukna beunang: airnya bening, ikannya dapat.
Artinya: Semua bisa berhasil tanpa menimbulkan masalah.
3. Halodo sataun lantis ku hujan sapoé: kemarau setahun, hilang oleh hujan sehari.
Artinya: Kebaikan yang sangat banyak hilang gara-gara satu kali melakukan perbuatan jelek.
4. Jati kasilih ku junti (junti = serupa jati kecil): pohon jati kalah oleh pohon junti.
Artinya: pribumi kalah oleh pendatang.
5. Uyah tara téés ka luhur (garam tidak mencair ke atas).
Artinya: Sifat orang tua turun ke anak (buah jatuh tidak jauh dari pohonnya/air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan).
6. Adéan ku kuda beureum: sombong dengan milik orang lain, bisa juga berpenampilan gaya dengan hasil minjam. (Adéan sendiri merupakan salah satu jenis cara kuda lari, sepertinya dia yang gagah padahal yang bikin gagahnya adalah larinya kuda).
7. Alak-alak cumampaka (alak-alak = bunga seperti cempaka / alak-alak menyerupai bunga cempaka): orang bodoh merasa sama dengan orang pintar.
8. Anjing ngagogogan kalong (anjing mengonggong kalong): ingin kepada yang tidak layak, atau mengangankan yang tidak mungkin terjadi (bagai pungguk merindukan bulan).
9. Ari umur tunggang gunung, angen-angen pecat sawed: Orang tua yang berperilaku seperti anak muda. Umurnya sudah menjelang senja (seperti cahaya matahari di punggung gunung/tunggang gunung, tapi serasa cahaya di pagi hari/pecat sawed),
10. Asa aing uyah kidul: merasa paling gagah, pintar, tampan, dan sebagainya. (asa aing = merasa diri, uyah kidul = garam selatan/garam paling bagus)
11. Aya bagja teu daulat: mau dapat bahagia/untung tetapi tidak jadi.
12. Batok bulu eusi madu: luarnya jelek, dalamnya bagus. Seperti orang bodoh padahal pintar, misal Mr Bean. (Batok bulu: kulit kelapa yang sudah berbulu/tua dan isinya biasanya jarang disukai, eusi madu = isinya madu)
13. Buluan belut, jangjangan oray (belut berbulu, ular bersayap): Sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
14. Cara kuda leupas ti gedogan: seperti kuda lepas dari kandang, keluar rumah langsung berperilaku bebas/liar seakan lepas dari kungkungan.
15. Daék macok embung dipacok (mau mematuk tidak mau dipatuk): mau diberi tidak mau memberi.
16. Dagang oncom rancatan emas (dagang oncom pemikulnya terbuat dari emas): Hasilnya sedikit tapi modalnya besar (bahasa Indonesia: Besar pasak daripada tiang).
17. Ditiung geus hujan (dikerudung setelah hujan): Bersikap hati-hati setelah celaka.
18. Dogong-dogong tulak cau, geus gedé dipelak batur: ungkapan untuk orang yang menandai perempuan sejak kecil, dengan memberi apa saja supaya nanti bisa dinikahi. Tetapi ketika dewasa malah dinikahi oleh orang lain.  (dogong = penahan, tulak = sebatang kayu/bambu untuk penahan, cau = pisang, dipelak = ditanam )
19. Hulu dugul dihihidan (kepala gundul dikipas): yang untung bertambah untung.
20. Indung lembu bapa banténg (ibu sapi bapak banteng): keturunan gagah, keturunan bangsawan.
21. Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak (ke air jadi satu sungai, ke darat jadi satu daratan): bersama-sama dalam persatuan dan kesatuan.
21. Katempuhan buntut maung: jadi pengganti kesusahan orang lain. (katempuhan = terkena imbas/ikut tersalahkan, buntut = ekor maung = harimau. Diibaratkan harimau adalah masalah, kepalanya yang kena masalah besar, tapi merembet sampai ekornya).
22. Kéjo asak, angeun datang (nasi matang, sayur datang): cepat yang dimaksud/tidak dilama-lama.
23. Kokoro manggih mulud, puasa manggih lebaran: orang yang ajimumpung, serakah dan tidak tahu batas. Kokoro = kelaparan, mulud = maulud, bulan biasanya banyak yang mengadakan hajatan. Puasa manggih lebaran = puasa ketemu lebaran, biasanya makan banyak karena sebulan puasa.
24. Lauk buruk milu mijah: ikan busuk ikut pergi ke tempat bertelur, ikut-ikutan kepada hal yang tidak baik karena terbawa arus.
25. Mihapé hayam ka heulang (menitipkan ayam ke elang): menitipkan harta kepada pencuri/orang yang tidak bisa dipercaya.
26. Monyét kapalingan jagong: monyet kecurian jagung. Pencuri jadi korban pencurian, penipu yang tertipu.
27. Monyét ngagugulung kalapa: monyet mengurus kelapa dimana cara membukanya pun, si monyet bingung. Mempunyai/menggarap sesuatu tetapi tidak tahu cara menggunakan/melakukannya.
28. Nyiduh ka langit (meludah ke langit): memberi nasihat kepada orang yang lebih tua umurnya.
29. Pupulur méméh mantun: minta upah sebelum kerja. Pupulur = suguhan/upahmantun dari kata pantun = jenis kesenian tembang Sunda buhun/zaman dulu.
30. Sagalak-galakna maung, moal ngahakan anakna: sebuas-buasnya harimau, tidak akan memangsa anaknya meski jahat tidak akan membunuh anaknya sendiri.

------
Kumpulan artikel Belajar Bahasa Sunda lainnya LIHAT DI SINI


share to whatsapp