Wisata Jabar

Campur Kode dan Kamuflase Kurang Bisa Bahasa Sunda Halus

share to whatsapp



Kaos Bahasa Sunda

Pernahkah kamu merasa karagok atau bingung saat bicara bahasa Sunda dengan orang lain karena ada kata atau istilah bahasa Sunda yang kurang kamu kuasai. Misalnya, saat kamu bicara dengan orang lain yang lebih tua dan menawarkan mereka untuk makan. Dalam undak usuk basa, kata "makan" harus disesuaikan dengan kondisi.

Contohnya dalam kalimat berikut.
1. Bahasa loma/akrab
A: "Manéh rék dahar moal?" 
(Kamu mau makan enggak?)
B: "Urang mah geus dahar tadi"
(Saya sudah makan tadi)

2. Bahasa lemes/halus untuk orang lain.
A: "Akang badé tuang?"
(Akang mau makan?)
B: "Abdi mah atos neda tadi."
(Saya sudah makan tadi)

Perhatikan penggunaan dahartuang, dan neda tersebut. Kata "dahar" dipakai untuk suasana akrab. Kata "tuang" untuk orang lain dan kata "neda" untuk diri sendiri. Nah, yang jadi masalah biasanya saat kita kebingungan kata apa yang pas buat dipergunakan dalam suasana tertentu. Maka, di era kekinian tak jarang demi menutupi kurang bisanya pemilihan kata halus tersebut digunakanlah campur kode. Sah-sah saja penggunaan campur kode ini, daripada salah penerapan pilihan kata bahasa Sunda yang bisa bikin orang lain tersinggung.

Misalnya:
Abdi mah teu nempo anjeunna tadi énjing angkatna kamana, padahal seharusnya Abdi mah teu ningal anjeunna tadi énjing angkatna kamana. (Saya tidak melihat dia tadi pagi perginya kemana).

Campur kode sendiri adalah penggunaan dua bahasa atau lebih  atau dua varian dari sebuah bahasa dalam satu masyarakat tutur dengan kondisi ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotomiannya, sedangkan kode-kode lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hanyalah berupa serpihan-serpihan (pieces) saja tanpa fungsi keotomiannya sebagai sebuah kode (Chaer dan Agustina, 2010: 107).

Maka, tak jarang khususnya para penutur bahasa Sunda sekarang yang menerapkan campur kode buat menyiasati kondisi tersebut, biasanya mencampurnya dengan kata/istilah bahasa Indonesia.

Contoh penerapan campur kode dalam bahasa halus:
- Badé makan heula moal? // mau makan dulu gak?
Bahasa Sunda halus: Bade tuang heula moal?

Pergi ayeuna wé yu kabujeng siang. // Pergi sekarang aja keburu siang.
Bahasa Sunda halus: Angkat ayeuna wé yu kabujeng siang.

- Mending tidur di teun abdi wé atuh. // Lebih baik tidur di rumah saya saja.
Bahasa Sunda halus: Mending kulem di teun abdi wé atuh.

- Ameng atuh ka rumah abdi engké sonten. // Main dong ke rumah saya nanti sore.
Bahasa Sunda halus: Ameng atuh ka rorompok abdi engké sonten.

- Ibu mah teu acan bangun, masih di kamar. // Ibu belum bangun, masih di kamar.
Bahasa Sunda halus: Ibu mah teu acan gugah, masih di kamar. 

------
Kumpulan artikel Belajar Bahasa Sunda lainnya LIHAT DI SINI


share to whatsapp