Wisata Jabar

Inilah Kriteria Objek Wisata Idaman Wisatawan di Era Kekinian





Kegiatan wisata atau rekreasi bagi masyarakat menjadi kebutuhan penting untuk melepas penat sekaligus refreshing dari segala kesibukan aktivitas yang bikin mumet. Namun, saat mengunjungi objek wisata tak jarang wisatawan yang ngedumel karena tidak tercapainya ekspektasi mendapatkan kesenangan.

Kegiatan liburan yang seharusnya menjadi kebahagiaan dinodai oleh ketidakpuasan. Itulah salah satu tantangan bagi pengelola objek wisata. Apalagi di era kekinian, para penunjung bisa jadi "hakim" yang menyebarkan kondisi tempat wisata di media sosial.

Lantas apa sajakah kriteria tempat wisata yang diidamkan para pelancong di era kekinian? Berikut ini beberapa hal yang kiranya bisa jadi informasi maupun referensi bagi para pengelola tempat wisata agar objek wisatanya ramah dan memuaskan pengunjung. Tulisan ini berdasarkan beberapa masukan, survei, juga data dari berbagai sumber yang diolah oleh tim wisatajabar.com.

1. Ramah Internet
Inilah hal utama yang biasa informasinya dicari terlebih dahulu oleh para wisatawan. Efek viral di media sosial biasa jadi pendorong calon pelancong untuk mengunjungi tempat wisata, entah itu karena keunikan tempatnay atau memang sedang trending. Pengunjung pun akan mencari informasinya di Instagram; menelepon langsung; review di website/blog; searchig di Google Business atau Google maps; dan cara mencari info lainnya.

Untuk itu, pengelola tempat wisata sebaiknya memiliki admin khusus yang punya website/blog berisi profil tempat wisata; akun di media sosial; memiliki nomor/email kontak; punya akun di Google Maps/Google Business; punya channel di Youtube; sampai siap menjawab pesan dan komentar di media sosial. Bagi pengelola tempat yang kurang gerilya di medsos, siap-siap saja tidak akan begitu "ditaksir" oleh para calon pengunjung. Pengunjung ingin mengetahui lebih lengkap mengenai lokasi, jam buka, harga tiket, hingga harga per paket di tempat wisata tersebut.

2. Kejelasan Akses ke Tempat Wisata
Ini berhubungan dengan ketersidaan akses atau moda transportasi. Pengunjung ingin mendapatkan info sedetail mungkin jalur yang harus dilalui untuk mencapai tempat wisata tersebut. Salah satunya dengan ketersediaan info lokasi wisata di Google Maps akan sangat membantu perjalanan pengunjung. Begitu pula dengan akses bila menggunakan kendaraan umum (bus, angkot, dsb.). Akan lebih baik jika tempat wisata tersebut menyediakan moda transportasi antar jemput, semisal mobil ontang-anting.

3. Keramahan pengelola dan penduduk sekitar tempat wisata
Ini yang paling penting dalam urusan senyum, sapa, dan sopan menjadi nilai plus bagi tempat wisata tersebut. Sebagus dan selengkap apapun tempat wisata, bila petugasnya jutek alias bermuka masam akan meninggalkan kesan yang bikin malas pengunjung datang lagi. Parahnya, bisa saja pengalaman kurang enak tersebut disebarkan di media sosial atau jaringan pribadi si pengunjung.

Begitu pula, penduduk sekitar pun turut memegang peranan penting. Maklum saja, sebelum atau sesudah berkunjung ke tempat wisata, wisatawan akan berpapasan dengan penduduk sekitar. Parahnya, bila ada tarif-tarif lain yang di luar kendali tempat wisata. Misalnya, mahalnya tarif parkir yang dikelola penduduk di sekitar tempat wisata atau penduduk mengganggu kenyamanan para wisatawan.

4. Ketersedian Fasilitas dan 3K
Jangan remehkan urusan toilet, ketersediaan tempat sampah, sampai tempat ibadah seperti mushola. Pengunjung ingin menikmati tempat wisata tanpa harus terganggu toilet yang menjijikan atau kurang air; sampah yang berserakan dan bau; atau susahnya untuk ibadah shalat karena tidak ada mushala atau mushala terlalu sempit.

Kebersihan, ketertiban, dan keamanan pun merupakan syarat mutlak tempat wisata tersebut ramah dikunjungi. Untuk itu, perlu adanya petugas khusus yang siap melayani segala pertanyaan atau aduan wisatawan. Selain itu, perlu ada petugas kebersihan yang selalu standby membersihkan area tempat wisata. Apalagi bila saat momen libur panjang. Juga tim keamanan pun harus selalu bersiaga dan ramah terhadap pengunjung.

5. Ramah foto selfie dan wefie
Ketersediaan spot buat aktivitas swafoto maupun berfoto bareng-bareng memang jadi tuntutan tersendiri bagi tempat wisata di zaman now. Mengabadikan kunjungan ke tempat dengan berfoto memang jadi kebiasaan wisatawan di manapun apalagi di zaman medsos sekarang ini.

Hal tersebut sebetulnya akan menguntungkan bagi tempat wisata sendiri. Pengunjung menjadi juru promosi tidak langsung dikala mereka mengunggah foto-foto kunjungan di tempat wisata tersebut dengan senyum ceria dan terlihat wajah yang puas. Penyediaan akses WiFi gratis bagi pengunjung pun jadi nilai lebih bagi tempat wisata tersebut.

Adapun untuk spot-spot berfoto bisa disesuaikan dengan konsep dan segmen tempat wisata, misalnya spot khusus untuk berfoto gaya anak-anak, remaja, maupun keluarga. Kini, sudah banyak referensi spot berselfie yang lagi ngetrend. Penyediaan spot berfoto tersebut bisa menggunakan pola ATM (amati, tiru, modifikasi) di tempat lainnya yang sudah ngehits.

Satu lagi, jangan abaikan potensi pengunjung kaum remaja. Mereka adalah garda terdepan cepat tersebarnya tempat wisata kepada khalayak. Maklum saja, penggunakan internet juga yang lebih melek cara menggunakan medsos sebagian besar adalah kaum remaja. Merekalah yang bikin cepat viralnya tempat wisata terbaru serta unik di medsos, baik di Instagram, Twitter, maupun Facebook. Dan untuk medsos yang paling banyak diminati netizen untuk mencari tempat wisata sekarang ini adalah di Instagram. Maka, wajib bagi pengelola tempat wisata untuk punya akun official di instagram.

6. Tempat wisata ramah anak
Ini yang kadang jadi ganjalan para pengunjung ke tempat wisata. Tempat wisata ramah anak dipastikan akan menyedot kunjungan. Orang tua bisa bersantai sambil mengawasi anak-anak berekreasi. Juga bisa makan di tempat wisata dimana pengelola menyediakan kursi khusus buat anak makan. Atau keadaan di area tempat wisata dibuat senyaman dan seaman mungkin buat anak, misalnya dijauhkan dari kabel-kabel listrik; ada penghalang agar anak tidak jatuh; atau ada papan petunjuk/pengumuman.

7. Konsep wisata terpadu
Sekarang ini konsep wisata terpadu memang jadi trending. Entah itu paduan tempat wisara waterpark dengan adanya sentra souvenir/belanja, kantin, ruang ganti, gazebo untuk para orang tua bersantai, mushala, kamar bilas, play ground, spot selfie, dan lainnya. Untuk wisata kuliner seperti restoran pun bisa disajikan dengan konsep wisata terpadu, misalnya dengan adanya tempat bermain anak, baik indoor maupun spot khusus.

Trend tempat wisata terpadu memang butuh biaya lumayan, namun hasilnya pun akan lumayan juga. Masyarakat akan cepat jenuh bila tempat wisata terlalu monoton alias itu-itu saja. Kini, tak sedikit tempat wisata yang selalu mengupgrade fasilitas maupun layanan program. Tak lain agar tempat wisata selalu ngangenin untuk dikunjungi kembali.

8. Kerja sama promosi dengan pihak lain
Sekali-kali, tempat wisata tersebut bisa berpromosi dengan menjalin kerja sama review liputan dengan blogger, pegiat medsos, atau buzzer. Bisa juga dengan promosi via Facebook Ads, Instagram Ads, atau Google AdWords. Hal ini agar tempat wisata tersebut lebih cepat dan lebih mudah diketahui informasinya oleh khalayak luas.

Ingat, masyarakat di era kekinian menjadikan smartphone sebagai media utama untuk mencari informasi dibanding dengan membaca media konvensional (seperti koran atau selebaran); jarang menonton televisi; atau mulai kurang aktif mendengarkan radio. Untuk variasi, bisa juga dengan mengunggah foto/video tempat wisata teresebut di Instagram, Facebook, Twitter, atau Youtube oleh tim pengelola sendiri.