Wisata Jabar

Potensi Wisata Kerajinan Bambu di Selaawi, Garut





Kerajinan Garut selama ini lebih kesohor jaket kulit dari Sukaregang. Namun, Garut pun menyimpan potensi wisata kerajinan bambu yang sudah dikenal sejak tahun 2012. Bagi para pehobi pemelihara burung, nama Selaawi di Garut mungkin sudah tak asing lagi. Ya, di salah satu kawasan Garut yang berbatasan langsung dengan Sumedang ini merupakan sentra perajin sangkar burung.

Bahkan pada akhir 2016, Museum Rekor Indonesia (MURI) pernah mencatatk rekor yang dibuat oleh para perajin di sana. Para perajin berhasil membuatsangkar burung terbesar dengan ukuran tinggi 7 meter, diameter 5 meter, dan lingkaran 16 meter. Pembuatan sangkar.

Sangkar burung Selaawi sudah menyebar di berbagai daerah
Kerajinan sangkar burung dari Selaawi itu adalah sangkarnya biasanya berbentuk bulat dan terdapat ukiran berbentuk dewa-dewa. Untuk pembuatan sangkar burung biasa digarap dengan teliti dan dikerjakan secara manual. Satu buah sangkar burung bisa dihargai mulai ratuan ribu  hingga jutaan rupiah.

Hal tersebut bergantung dari tingkat kesulitan pembuatan sangkar. Kerajinan sangkar burung produksi Selaawi telah dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Para pehobi burung biasanya sudah berlangganan memesan sangkar burung dari Selaawi.

Selaawi sendiri memiliki tujuh desa dan dari 39.000 penduduk Kecamatan Selaawi, 1.900 di antaranya adalah perajian bambu. Produksi kerajinan dari Selaawi bukan hanya sangkar burung namun aneka kerajinan bambu lainnya, seperti  peralatan rumah tangga, alat musik tradisional (karinding), asesoris, kursi dan furnitur.  Potensi kerajinan sangkar burung dari kawasan utara Garut tersebut kini mulai dikembangkan dengan dukungan pemerintah setempat.

Pengembangan wisata kerajinan bambu Selaawi
Jika dikembangkan lebih optimal, Selaawi bisa menjadi destinasi wisata kerajinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Pihak Kecamatan Selaawi sendiri tahun ini berencana akan mengembangkan sebuah konsep wisata yakni wisata kerajinan bambu.

Konsep wisata kerajinan bambu ini dengan menjadikan Selaawi sebagai tujuan wisatawan. Wisatawan bisa menginap sambil melihat aktivitas para perajin bambu di Selaawi. Untuk mengembangkan kawasan wisata, tentunya perlu dukungan dari pihak pemerintah setempat, warga, dan pihak lainnya.

Untuk saat ini, pihak Kecamatan Selaawi telah menjalin kerja sama dengan salah satu universitas swasta di Bandung. Dukungan dari pihak akademisi salah satunya datang dari Harry Anugrah Mawardi ulusan ITB Jurusan Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB tahun 2009. Ia menjalin kerja sama dengan para perajin bambu Selaawi salah satunya dengan Utang Mamad yang berasal dari Desa Mekarsasi.

Mendorong perekonomian masyarakat
Kolaborasi keduanya menghasilkan karya kreatif dan inovatif. Seperti dilansir dari x.detik.com, keduanya memproduksi lampu meja, vas bunga, bangku, gelas, pegangan bambu, sampai kalung. Uniknya, sebagian besar kerajinan bambu yang dibikin menyerupai sangkar burung dengan bentuk tabung dan memiliki jeruji bambu.

Menurut hitungan pihak kecamatan, setidaknya memerlukan Rp100 miliar untuk pengembangan wisata kerajinan bambu Selaawi. Bila konsep wisata ini berkembang, otomatis akan berdampak pada tingkat perekonomian masyarakat.

Dari pendataan Gabungan Kelompok Perajin Selaawi, ada sekitar 40 pengusa kerajinan bambu di Selaawi. Untuk saat ini, tengah disiapkan penanaman bambu yang bisa dijadikan bahan baku kerajinan sekaligus menjadi lokasi wisata.