Wisata Jabar

Menikmati Wisata Alam, Sejarah, dan Kopi Priangan di Gunung Puntang




Kawasan wisata berkemah Gunung Puntang jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Bandung. Dari arah keluar tol Buah Batu melalui rute Bojongsoang - Baleendah/Dayeuhkolot - alun-alun Banjaran - Cimaung - Gunung Puntang. Bila naik kendaraan umum, naik angkot Tegallega - Banjaran dan di Terminal Banjaran diteruskan naik angkutan desa ke Gunung Puntang.

Wisata kemping Gunung Puntang
Bagi wisatawan, kawasan Ciwidey mungkin lebih banyak dikenal sebagai salah satu tempat berkemah, salah satunya di Rancaupas. Namun, di daerah lainnya di Bandung Selatan ada pula tempat wisata berkemah yakni Gunung Puntang. Area perkemahan di Gunung Puntang biasa jadi tempat kegiatan berkemah maupun kegiatan alam oleh anak-anak sekolahan maupun kuliahan.

Gunung Puntang yang berada di ketinggian 2.223 mdpl ini kerap dijadikan lokasi gathering komunitas, seperti komunitas musik maupun komunitas motor. Bahkan acara-acara kampus (ospek/mabim) hingga acara kegiatan konsolidasi parpol pun kerap digelar di sini. Saat musim liburan, akhir pekan, atau malam tahun baru, kawasan Gunung Puntang pun biasa ramai oleh mereka yang berkemah di alam terbuka.

Di kawasan Gunung Puntang, kita bisa melihat lanskap Bandung dari ketinggian. Kawasan Gunung Puntang pun terkenal dengan hasil perkebunan sayuran. Jadi, saat perjalanan menuju Gunung Puntang, Dan saat berkemah malam hari saat cuaca cerah, pemandangan langit begitu memesona dengan taburan bintang bertebaran begitu jelas di langit.

Suasana sejuk alam pegunungan sangat cocok bagi para penggemar petualang alam. Fasilitas berkemah di sini pun terbilang memadai. Bagi yang ingin berkemah bisa menyewa tenda, membeli kayu bakar, hingga menyewa petromak. Namun, petulangan pagi hari dengan lintas alam adalah petualangan yang sangat mengasyikkan, salah satunya bertualang ke Curug Siliwangi.

Wisata sejarah Stasiun Radio Malabar
Bukan hanya petulangan alam yang dapat dinikmati di sini. Bila Anda menyukai wisata sejarah Bandung, di kawasan Gunung Puntang pun terdapat bekas bangunan stasiun radio yang pernah dibangun pada zaman kolonial.  Radio Malabar itulah nama sebuah pemancar radio yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1917. Stasiun radio tersebut di zaman kolonial menjadi sarana komunikasi antara Hindia Belanda dan Belanda.

Radio ini pertama kali dipimpin oleh seorang teknisi dari Belanda bernama Cornelius Johannes de Groot, ia berhasil memimpin seluruh pembangunannya hingga akhirnya dapat diresmikan pada tanggal 5 Mei 1923. Stasiun radio tersebut memiliki antena yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang 2 kilometer, membentang di antara Gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter.

Kini, masa kejayaan radio yang mengudara hingga ke penjuru dunia tersebut hanyalah tinggal puing-puing. Kawasan Radio Malabar ini ditemukan seorang penduduk, Utay Muchtar, setelah bertahun-tahun tidak ada yang mengetahuinya. Selain puing-puing bangunan, saksi bisu di kawasan ini ada sebuah kolam besar yang disebut dengan Kolam Cinta. Lokasi kolam ini berada di pinggir aliran Sungai Cigeureuh.

Kopi Gunung Puntang yang Tersohor
Bila Anda pernah mendengar nama Kopi Java Preanger, nama Gunung Puntang tak dapat dilepaskan dari sejarah kopi dari Priangan tersebut. Bibit kopi inilah yang pertama kali dibawa Belanda untuk ditanam di Nusantara. Kopi Preangan adalah leluhur dari varian kopi-kopi terbaik di Indonesia, seperti Toraja, Gayo dan Sidikalang.

Sekarang ini, kopi tersebut dikembangkan di Gunung Puntang oleh Kang Ayi Sutedja Soemali. Yang patut dibanggakan, biji kopi milik Kang Ayi Sutedja ini pernah menyabet predikat kopi terbaik di kontes kopu yang digelar di USA pada April 2016 lalu. Dalam ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016, 14-17 April 2016 tersebut, kopi yang ditanam Kang Ayi menjadi yang terbaik dalam uji cita rasa dan harga lelang. Biji kopi Kang Ayi mendapat nilai 86,25 dengan harga lelang 55 dollar Amerika Serikat per kilogram.

Kopi tersebut dikembangkan Kang Ayi di kaki Gunung Puntang, Kampung Kolelega, Desa Pasirmulya, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Begitu dicecap, terasa paduan pahit, asam, dan manis yang samar. Rasa itu tak tertinggal lama di mulut, membuat ingin meminumnya lagi dan lagi.

Film semidokumenter "Kelana Roda Dua"
Kisah Kang Ayi dan kopi Gunung Puntang, diabadikan pula dalam film semidokumenter oleh motor dengan judul "Kelana Roda Dua". Film yang disutradarai oleh Kang Omar Annas ini mengisahkan tentang perjalanan Omar untuk menjelajahi secara acak alam Jawa Barat menggunakan motor kesayangannya. Kang Omar kemudian menemukan keindahan alam dan kenikmatan rasa kopi Gunung Puntang milik Ayi Sutedja. Film ini diproduksi bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Pemutaran perdana film "Kelana Roda Dua" pada Desember 2016 dikemas dalam acara nonton bareng di Spasial Bandung dengan diawali berkendara motor bersama dengan jalur Gedung Sate - Jln. Asia Afrika - Jln. Braga - Jln. Ahmad Yani (Kosambi) - Gudang Selatan. Sekitar 200 motor dari berbagai jenis seperti motor tua, custom, hingga keluaran tahun 2000an terlibat dalam konvoi damai ini. Keunikan film ini yakni mengkolaborasikan pencinta motor, nikmatnya kopi Puntang dan indahnya alam Bandung Selatan.