Wisata Jabar

Catatan Wisata Jawa Barat: Tren Wisata di Jabar Sepanjang 2016




Di balik segala permasalahan wisata yang masih harus terus dibenahi, potensi wisata terus berkembang di berbagai daerah di Jawa Barat. Berikut ini di antaranya:

1. Destinasi wisata alam masih menjadi primadona
Ini di antaranya objek wisata pantai, curug (air terjun), danau, dan keindahan alam pegunungan. Wisata di Pangandaran atau Sukabumi masih menjadi favorit wisatawan untuk menghabiskan liburan. Begitu pula wisata curug di berbagai daerah mulai terangkat pamornya seperti wisata aneka air terjun di Tasikmalaya,  Majalengka, Kuningan, Sumedang, Subang, dan lainnya.

2. Konsep tempat wisata unik
Konsep objek wisata yang dikemas unik dan menarik banyak menarik perhatian pengunjung, seperti beberapa tempat wisata di Ciwidey atau kawasan Lembang. Begitu pula di tempat lain seperti di Purwakarta dengan taman-taman dan objek wisata lainnya yang punya ciri khas lokalitas.

3. Alternatif penginapan
Untuk penginapan di Bandung mulai bergeser tidak harus menginap di hotel. Menyewa apartemen dan guest house kini jadi primadona para wisatawan yang berkunjung ke Bandung. Apalagi sekarang promosi penyewaan kamar apartemen atau guest house di media sosial semakin gencar. Mereka memberikan layanan kenyamanan plus harga sewa yang sangat terjangkau.

4. Wisata seni budaya
Wisata seni budaya Sunda kini kian diminati. Apalagi jika dibarengi dengan digelarnya beragam event seni budaya tradisional, baik tentatif maupun rutin. Ini bisa terlihat dari antusiasme wisatawan mengunjungi tempat wisata dan event seni budaya di Purwakarta, Bandung, juga di Kuningan. Selain itu, wisata kampung seni budaya pun menunjukkan kecenderungan semakin diminati wisatawan.

5. Kawasan wisata terpadu
Ini yang menjadi pilihan utama para wisatawan. Dimana saat mengunjungi tempat wisata, para pelancong bisa menikmati wisata, kuliner, menyaksikan pertunjukan, hingga belanja di satu tempat. Ini karena unsur efisensi dan efektifitas kunjungan sekaligus bisa lebih menekan budget berwisata.

6. Dukungan informasi dan akses wisata
Seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, tempat wisata pun ikut kena dampak positifnya. Para wisatawan memanfaatkan layanan informasi di situs, blog, media sosial, hingga aplikasi di smartphone. Misalnya untuk mendapatkan informasi tempat wisata yang jadi primadonan, mencarinya di Google Maps/Google Business, artikel profil wisata di situs/blog, maupun di media sosial dengan melacak di akun medsos yang bertema wisata atau langsung di akun pengelola wisata.

Begitu pula untuk melihat keindahan dan daya tarik tempat wisata, mencarinya di foto-foto atau video-video yang diunggah vlogger. Adapun untuk kunjungan, wisatawan ada yang menggunakan kendaraan pribadi (mobil atau motor) juga dengan rental kendaraan hingga memanfaatkan layanan transportasi berbasis online, terutama untuk di kota-kota besar. Infrastruktur dan fasilitas lainnya pun perlu disediakan untuk kenyamanan pengunjung, seperti jalan yang mulus, penginapan, tempat kuliner, pos informasi dan pengaduan/keamanan, petunjuk ke tempat wisata, tempat main anak, musala, toilet, sampai WiFi gratis.

7. Wahana rekreasi air
Konsep wisata waterboom atau waterpark semakin diminati para wisatawan. Hal ini baik kolam renang biasa ataupun kolam pemandian air panas. Jadi, untuk tempat wisata renang dengan konsep biasa-biasa saja rasanya dituntut untuk menyajikan pilihan wahana bermain air seperti slider, ember tumpah, balon air, dan lainnya. Kecenderungan wisata air ini terkait dengan tren tempat wisata waterboom sebagai destinasi rekreasi keluarga. Untuk itu, layanan fasilitas lain pun harus tersedia, seperti kantin, sewa ban, spot selfie, dan lainnya.

8. Wisata museum
Ini yang menjadi PR pengelola museum, yang biasanya masih dikelola pihak pemerintah daerah. Rupanya masyarakat masih lebih menomorsatukan wisata yang bersifat rekreasi. Hal ini karena wisata museum masih dianggap monoton dibanding wisata hiburan. Untuk museum sebagai wisata edukasi perlu adanya inovasi-inovasi dan promosi yang lebih maksimal agar lebih banyak menarik kunjungan wisatawan.

9. Sinergi pihak pemerintah, swasta/investor, dan masyarakat
Konsep pemberdayaan dalam pengelolaan wisata di masa mendatang memang akan menjadi solusi utama. Dalam hal ini, semua tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Pihak pemerintah tidak abai atau monoton dalam mengelola tempat wisata. Pihak pemerintah daerah bisa bekerja sama dengan menarik pihak swasta sebagai pengelola juga sebagai investor. Sementara masyarakat diberdayakan untuk pengembangan wisata, yakni dalam hal SDM, UMKM, event seni budaya, dan lainnya.

Kecenderungan monoton, kurang inovasi, dan kurang geraknya pemerintah setempat dalam memberdayakan potensi wisata masih dijumpai di beberapa daerah di Jawa Barat. Padahal sektor wisata bisa menambah pendapatan asli daerah (PAD) juga menjadi solusi untuk bangkitnya perekonomian masyarakat. Apalagi pihak Kementerian Pariwisata RI begitu gencar dalam mengangkat promosi wisata skala lokal  juga nasional. Di sinilah perlunya peran proaktif pemda dalam urusan wisata, tidak hanya duduk di belakang meja.

Pihak pemerintah daerah pun dituntut untuk tidak gagap teknologi yakni bisa memanfaatkan jaringan dunia maya dalam upaya promosi wisata daerah. Pemda bisa bekerja sama dengan para pegiat internet seperti blogger, netizen, pembuat aplikasi, ataupun para vlogger terutama dari kalangan anak muda. Sudah saatnya promosi wisata tidak hanya mengandalkan jalur konvensional (penyebaran selebaran, bikin spanduk, atau hanya berupa informasi di media massa cetak).