Wisata Jabar

Nyiar Lumar, Pagelaran Rutin Seni Budaya di Ciamis yang Pantas Mendunia





Kawali. Kota leutik. Camperenik. Teu jauh ti lembur uing, Panawangan. Kawali, dayeuh bihari, nu biasana simpè tèh basa aya gelar budaya "Nyiar Lumar" mah, poè Saptu, tanggal 19 Novèmber, jadi haneuteun pisan. Ti isuk-isuk geus rèa sèmah nu balawiri. Beuki beurang, jalma ti mana-mendi beuki tumplek di Kawali.

Dina raraga gelar budaya "Nyiar Lumar", pabeubeurang tèh geus mimiti aya acara: helaran alias karnaval ngurilingan dayeuh Kawali. Atuh ka Astanagedè, tatamu teu welèh merul, nu harayang nyekar heula ka patilasan samèmèh peutingna ilu kana "Nyiar Lumar". Alhasil, para peziarah tèh balawiri ti kantor kacamatan ka patilasan. Barulak-balik.


(Kawali, kota kecil nan cantik tak jauh dari kampungku, Panawangan. Kawali tempat kini yang biasa sepi saat digelar budaya Nyiar Lumar pada Sabtu, 19 November, jadi sangat ramai. Dari pagi para tetamu mulai berdatangan dan semakin beranjak siang semakin tumplek di Kawali.


Dalam rangka gelar budaya Nyiar Lumar, beranjak siang acara sudah dimuali: helaran/karnaval mengililingi Kawali. Begitu pula ke Astanagede para tamu pun berbondong-bondong, yang ingin nyekar sebelum malamnya mengikuti Nyiar Lumar. Hasilnya, para peziarah bolak-balik berbondong dari kantor kecamatan ke tempat petilasan/situs Astanagede).


**

Itulah gambaran bagaimana ramainya event "Nyiar Lumar" yang diposting Godi Suwarna, sastrawan Sunda sekaligusu pupuhu event tersebut, dalam akun facebooknya pada Rabu (23/11/2016). Nyiar Lumar adalah event budaya dua tahunan yang biasa digelar di Astana Gede, Kec. Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dan event yang diadakan pada Sabtu, 19 November 2016 adalah gelaran ke-9

Nyiar Lumar adalah kegiatan dimana energi sabililungan dari rakyat dan seniman serta budayawan yang rutin digelar dengan antusiasme luar biaya. Yang datang ke event seni budaya tersebut bukan hanya datang kawasan Ciamis, tapi dari kota lain di Jawa Barat. Bahkan jejaring kebudayaan dan kesenian dari luar daerah di Indonesia pun turut hadir seperti dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan lainnya. Event ini pun turut menyedot perhatian para wisatawan asing yang penuh antusiasme mengikuti rangkaian acara.

Nyiar Lumar kali ini turut dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ciamis, Herdiat, Ketua DPRD, Nanang Permana, Asda II, Endang Sutrisna dan pejabat daerah lainya. Para cacah (rakyat) dan gegeden (pejabat) bersama-sama ke makan Adipati Singacala, Pangeran Usman, Pangeran Adikusumadiningrat dan Pangeran Sancang. Kedatangan para pejabat Pemda Ciamis disambut penampilan puisi seniman sang penggagas “Nyiar Lumar,” Godi Suwarna di gerbang masuk Astana Gede yang diiringi tarian-tarian teatrikal.

Para pengunjung berbaur untuk kemudian berkeliling  mengitari situs seluas 4 hektare lebih di kawasan Astana Gede, Kawali Ciamis. Situs yang letaknya 6 km dari pusat Kota Ciamis. Suasana khas Sunda pun sangat kental terasa dimana pengunjung perempuan  memakai kebaya dan kaum laki-laki menggunakan pantalon dan pangsi.

Adapun rangkaian acara “Nyiar Lumar” di penghujung tahun 2016 kali ini, di antaranya:
1. Pembersihan prasasti dan batu tulis, batu tunjuk, batu judi batu pengobatan, batu tapak, batu panyandungan, batu panyandaan dan batu pangeuntengan yang merupakan peninggalan Kerajaan Galuh.
2. enampilan seni Teater KTNA dan Teater Jagad SMAN 1 Kawali di Alun-alun Surawisesa. Acara dilanjutkan dengan penampilan tari di atas air Cikawali, Neng Peking Studio Titik Dua. Puncak acara menampilkan teater bertema Perang Bubat buah karya Didon.
3. Penampilan Ronggeng Gunung dimana pengunjung berbaur dengna para penari mengelilingi api unggun diiringi lantunan nyanyian suara khas Sang Nyai Rongeng, Bi Raspi.

Aneka pagelaran lain pun disajikan selain seni helaran dari Bebegig Sukamantri, yakni Sisingaan Subang, Wayang Landung Panjalu, Kuda Bajir, Mleng-mleng Winduraja, dan Buta Batok. Kebersamaan semakin terasa saat di halaman pendopo Kecamatan Kawali, para peserta menikmati hidangan makanan ringan tradisional dengan menikmati alunan musik Degung Klasik, Tari Topeng, Karinding, Celempung dan Pantun Rajah yang berisi uraian singkat sejarah kerajaan Sunda Galuh.

Dan suasana malam semakin terasa syahdu dengan hadirnya ribuan damar atau cempor sebagai bagian dari pencahayaan. Memang, Nyiar Lumar biasa digelar semalam suntuk. Pagelaran seni budaya pun melibatkan berbagai unsur masyarakat, komunitas, hingga sanggar seperti hadirnya Gending Kreasi dari SMPN 1 Ciamis, Wayang Kila Lakbok, Pementasan Palagan Bubat oleh Teater Wastu, Ronggeng Gunung Nyai, Raspi, dan lainnya. Kebersamaan lain pun semakin terasa saat para peserta ikut “gubyag” di Sungai Cibulan dan setelahnya bersama-sama menikmati liwet ampar daun cau yang disiapkan pihak panitia.

***
Itulah Nyiar Lumar, sebuah event tradisi yang bukan hanya ajang riung mungpulung dan menikmati aneka sajian seni budaya Sunda. Namun, event ini mengandung banyak pesan yang disampaikan dari prinsip sabilulungan atau bahu membahu berbagai elemen masyarakat (dari urusan penyiapan SDM hingga urusan dana yang rereongan); upaya melestarikan dan mengangkat khazanah seni budaya lokal; hingga pesan kemanusiaan bahwa dengan seni dan budaya ada unsur pendidikan karakter berbasis local genius.

Sudah sepantasnya pagelaran Nyiar Lumar yang diadakan dua tahun sekali ini mendapat apresiasi lebih dari pihak pemerintah dari daerah hingga pusat. Dan pesan-pesan yang termaktub dalam Nyiar Lumar pun sudah saatnya bisa lebih dikenalkan ke kancah global. Hal ini terbukti dimana tak sedikit wisatawan mancanegara yang selalu rutin ikut serta dalam kegiatan rutin ini, walau hanya pesan dari mulut ke mulut. Dan yang terpenting adalah pesan-pesan berbasis lokalitas bisa lebih dikenal oleh generasi bangsa Indonesia juga warga dunia.