Wisata Jabar

Corak Arsitektur Tiongkok di Masjid Agung Sumedang




Sejarah perjalanan para perantau dari Tiongkok ke daerah Sumedang menyisakan bukti peninggalan pada Masjid Agung Sumedang. Bangunan Masjid Agung Sumedang berdiri di lahan wakaf dari R. Dewi Siti Aisyah. Dengan luas area 6755 meter persegi, masjid ini kini menjadi salah satu tempat ibadah, pusat kegiatan masyarakat, seligus tempat pangreureuhan bagi wisatawan yang kebetulan sedang berkunjung ke daerah Sumedang. Masjid Agung Sumedang terletak di lingkungan Kaum RW 10, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang.

Sejarah dan Profil Masjid Agung Sumedang
Menurut catatan sejarah, masjid ini mulai dibangun pada 3 Juni 1850 dan diselesaikan tahun 1854. Adapun imam pertama Masjid Agung Sumedang adalah penghulu R.H. Muhammad Apandi.  Menurut cerita, pembangunan Masjid Agung Sumedang tidak lepas dari peran serta etnis Tionghoa yang datang ke Sumedang. Para pengembara dari Negeri Tiongkok tersebut ikut serta dalam pembangunan Masjid Agung ini. Adapun gagasan pembangunan Masjid ini sendiri dari bupati Sumedang, Pangeran Sugih atau Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (1836 - 1882).

Bentuk Atap dan Menara
Bangunan masjid ini pun terlihat dipengaruhi oleh budaya Tionghoa dengan adanya perpaduan antara arsitektur Islam dengan arsitektur Tionghoa. Bentuk atap masjid bersusun tiga, mirip bangunan pagoda, kelenteng atau vihara. Dimana, tingkatan paling atas berbentuk limas (mamale). Semantara di bagian bagian puncaknya terpasang mustaka, berbentuk seperti mahkota raja-raja di masa lampau. Sementara menara tingginya 35,5 meter

Bentuk Mimbar
Mimbar masjid ini sangat antik dan dibiarkan berdiri dalam bentuk aslinya dengan empat tiang yang dicat keemasan dan bangunan kecil dengan atap limas. Adapun tempat khatib berdiri dibuat dengan empat trap sebagai tangga dan tempat duduknya seperti singgasana kerajaan. Untuk tombak yang suka dipegang oleh muraqi dan khatib masih utuh terbuat dari kayu jati dan berumur satu abad lebih (sekitar 120 tahun).

Tiang Penyangga
Jumlah tiang seluruhnya di masjid bersejarah ini166 buah, 20 buah jendela dengan ukuran tinggi 4 meter dan lebar 1,5 meter. Pada bagian depan terdapat ukiran kayu jati sebagai ornamen yang dibuat tahun 1850. Di masjid ini terdapat 3 buah beduk berukuran panjang 3 meter dan diameter 0,6 meter.  Bagian atas kusen pintu dan jendelanya penuh dengan hiasan ukiran kayu yang konon menorehkan citra ukiran model Cina. Pada bagian mimbar juga terdapat sebuah properti yang penuh dengan ukiran bergaya Cina.k.

Jendela Masjid
Jumlah jendela di bangunan dalam terdapat 20 buah dengan tinggi empat meter dan lebar satu setengah meter, terbuat dari kayu jati dengan jumlah pintu utama sebanyak tiga buah. Di masjid ini pun terdapat kitab suci Al-Qur'an yang terbuat dari kayu.

Masjid yang berada di area Alun-Alun Sumedang ini pernah mengalami renovasi pada tahun 1913 oleh Pangeran Aria Soeriaatmadja (Pangeran Mekah). Pemugaran pun pernah dilakukan pada tahun 1962 M. Pada zaman Orde Baru pun pernah dilakukan pemugaran yaitu pada tahun 1982. Restorasi pun pernah dilakukan tahun 2002 diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat waktu itu, Danny Setiawan pada 22 April 2003.