Wisata Jabar

Humor Jawa Barat: Si Kabayan dan Tukang Cukur



Pada suatu hari, Kabayan pergi ke kios tukang cukur di bawah sebatang pohon beringin besar. Kebetulan saat Kabayan masuk, sang tukang cukur tidak sedang melayani pelanggan lain, sehingga Kabayan bisa langsung duduk. Sang tukang cukur ternyata orang yang sangat ramah dan senang ngobrol. Bahkan, ia pun tak segan-segan bercerita tentang kisah-kisah atau hikayat para raja.

“Di suatu kerajaan…” kata sang tukang cukur, “hiduplah seorang raja yang adil dan bijaksana…”
Sebaliknya, Kabayan sangat tidak suka mendengar cerita sang tukang cukur. Menurutnya, tukang potong rambut itu terlalu cerewet.  Kabayan pun mencoba berpura-pura tidur agar sang tukang cukur menghentikan dongengnya. Namun, si pencukur yang ramah itu rupanya tak menyadari upaya Kabayan, sehingga mulutnya tetap sibuk selincah tangannya memotong helai demi helai rambut Kabayan.

Karena mulai agak jengkel, Kabayan pun mencoba meminta sang tukang cukur memendekkan ceritanya. “Pendekin saja..!” katanya.
“Baiklah,” kata sang tukang cukur. Kemudian, ia pun melanjutkan ceritanya. Namun, tunggu punya tunggu, cerita sang tukang cukur tidak kunjung berakhir. Kabayan pun kembali melayangkan protes.
“Pendekin saja..!” katanya lagi.
“Baiklah,” kata si tukang cukur, “lalu sang raja pun mencabut pedangnya untuk menghadapi si durjana…”  tuturnya hingga setengah jam kemudian.

Kabayan yang akhirnya tak tahan lagi, kini mulai melayangkan protesnya dengan agak keras.
“Saya bilang, pendekin saja! Pendekin saja!”
“Lho, bagaimana mau dipendekkin Mas Kabayan,” jawab si tukang cukur, “rambut sampeyan sudah saya potong sampai habis.”

Terkejut bukan main si Kabayan mendengar jawaban itu. Ia pun mendongak memandang cermin, dan dilihatnya kepalanya yang sudah licin tanpa ada sehelai rambut pun. Bukan main kesalnya ia pada si tukang cukur. Tapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur, Kabayan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sambil bersungut-sungut, ia tetap membayar si tukang cukur, dan segera berlalu dari tempat itu.

Sepanjang perjalanan ia harus menanggung malu karena kepalanya yang plontos berkilat-kilat tertimpa sinar matahari.  Apalagi sekelompok anak-anak sableng berteriak-teriak meledeknya sambil terbahak-bahak.
“Si botak! Si botak! Si botak!”