Wisata Jabar

Wisata Sejarah Kampung Budaya Sindangbarang, Bogor





Menjejak Kampung Budaya Sindangbarang seperti masuk ke mesin waktu ke masa ratusan tahun lampau di mana kerharmonisan manusia dan alam masih begitu lekat. Inilah perkampungan yang merepresentasikan jatidiri orang-orang sunda, lengkap dengan tradisi budaya yang masih lekat dan dijunjung tinggi oleh warganya. Di sini akan dengan mudah ditemui anak-anak yang sedang belajar kesenian tradisional, ibu-ibu sibuk menumbuk padi dengan lesung atau memasak dengan menggunakan hawu (tungku tradisional), dan para petani yang sedang bekerja di sawah. Kehidupan yang sudah sangat sulit kita temui di zaman modern ini.

Berdiri sejak abad ke-12, keberadaan Sindangbarang tersurat dalam dokumentasi masa lalu, seperti dalam Babad Pajajaran dan Pantun Bogor. Konon, Sindangbarang merupakan salah satu wilayah dari Kerajaan Sunda. Dikisahkan dalam Babad Pajajaran dan Pantun Bogor, di Sindangbarang terdapat keraton salah istri Prabu Siliwangi. Di tempat ini pula zaman dahulu, prajurit-prajurit Sunda ditempa agar siap membela kerajaan dari segala marabahaya.

Lokadi dan Rute Menuju Kampung Budaya Sindangbarang
Kampung budaya ini terletak di kampung Sindangbarang, Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasinya tidak begitu jauh dari Kota Bogor, hanya sekitar 5 kilometer. Ada beberapa rute untuk mencapai kampung budaya ini sesuai asal kedatangan Anda, tetapi bagi Anda yang berasal dari luar kota dan memakai kendaraan umum --misalnya dari Jakarta atau Bandung-- Anda bisa menumpang bus yang menuju ke Terminal Baranangsiang Bogor.

Dari Terminal ini, perjalanan bisa Anda lanjutkan dengan naik angkot 13 jurusan Bantarkemang-Ramayana, atau angkot 06 jurusan Ciheuleut-Ramayana. Anda kemudian turun di Bogor Trade Mall (BTM), kemudian naik angkot 03 jurusan Ramayana-Ciapus yang bertanda "SBR" (Sindangbarang).

Rumah Tradisional di Sindangbarang
Rumah-rumah di kampung yang berjumlah sekitar 20 unit merupakan representasi perumahan tradisional Sunda Bogor, terbuat dari bilik-bilik bambu dengan atap dari ijuk. Bangunan-bangunan ini terdiri dari imah gede, giring serat, bale riungan, leuit (lumbung padi), saung lisung, tajug agung, pasanggrahan, panengeun, dan pangiwa.

Secara umum, perumahan di Sindangbarang terdiri dari kaki (umpak), badan, dan suhunan (atap). Bagian umpak berupa batu berukuran sekitar 70 x 70 cm dengan tinggi sekitar 40-50 cm. Sementara bagian badan merupakan bagian utama bangunan yang berangka kayu dengan dinding bilik, sangat cocok dengan kondisi alam Indonesia yang beriklim tropis sehingga sangatnyaman untuk ditinggali.

Terakhir suhunan (atap) perumahan terbuat dari ijuk yang disebut dengan gado bangkong, yang maknanya warga selalu siap siaga menghadapi berbagai bahaya. Yang unik, semua posisi rumah menghadap ke satu arah, yakni dibangun dari timur menghadap ke barat. Filosofinya, kehidupan umat manusia mengikuti arah perjalanan sang surya, yakni terbit dari timur dan tenggelam di barat.

Rumah-rumah di Kampung Budaya Sindangbarang merupakan hasil rekonstruksi dan revitalisasi yang dilakukan para budayawan Sunda serta para kokolot Sindangbarang, seperti Anis Djati Sunda, Eman Sulaeman, dll., dengan didukung oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Daerah Bogor. Tentu saja penduduk setempat juga turut berperan dalam perkampungan ini.

Bahkan, Kasepuhan Cipta Gelar Sukabumi pun mengirimkan bantuan tenaga teknis untuk "mendirikan" kembali perkampungan ini. Perkampungan ini memang pernah rusak karena bencana alam dalam masa yang cukup panjang. Karena itulah, revitalisasi dan rekonstruksi perkampungan ini sangat diperlukan agar generasi muda Sunda dapat mengenal dan melestarikan jati dirinya.

Kesenian dan TradisiSalah satu tradisi yang dilestarikan di Kampung Budaya Sindangbarang adalah upacara Seren Taun, yang merupakan bentuk rasa syukur Kepada Yang Mahakuasa atas hasil panen dan hasil bumi yang melimpah, yang diselenggarakan setahun sekali.

Acara ini diselenggarakan dengan membawa rengkong untuk mengangkut padi dan dongdang berisi sayur-mayur dan buah-buahan untuk diarak keliling kampung. Setelah itu hasil bumi diperebutkan warga sekitar untuk mendapatkan berkah. Padi-padi kemudian disimpan di lumbung padi atau leuit. Upacara ini merupakan tradisi yang paling ditunggu-tunggu karena juga selalu diiringi oleh pertunjukan lainnya seperti angklung gubrak, pencak silat, dan parebut seeng.

Setelah Entong Sumawijaya, Kepala Desa kampung Sindangbarang wafat pada tahun 1971, acara tahunan ini sempat lenyap. Sekitar 35 tahun kemudian, cucu Entong, Ahmad Mikani Sumawijaya dibantu para tokoh Sunda lainnya serta para peneliti budaya menghidupkan kembali tradisi ini.

Untuk pelestarian kesenian tradisional, diselenggarakan juga pelatihan tari dan gamelan untuk para generasi muda secara gratis, yang akan dipertunjukkan dalam sebuah pementasan untuk menyambut tamu. Di sini pun terdapat situs-situs peninggalan kerajaan Pajajaran berupa Taman Sri Bagenda yang berupa taman berupa kolam dengan panjang 15 X 45 meter, dan 33 titik punden berundak.

Jadi, apabila Anda ingin melakukan perjalanan wisata sejarah sekaligus menikmati sejuknya udara perdesaan yang masih asri, Kampung Budaya Sindangbarang bisa menjadi pilihan. *N.A. Faiz