Wisata Jabar

Lagu Pop Sunda: Antara Harapan dan Kenyataan




Mendengarkan lagu pop Sunda seakan memulangkan kita pada memori masa lalu. Apalagi Anda yang sedang ngumbara di kota atau negara lain. Lirik-lirik dalam lagu pop Sunda sangat menyentuh hati. Tentunya pula rasa kecintaan kita akan tanah pilemburan di Tatar Sunda akan terbangkitkan. Memang, seni musik Sunda yang salah satunya diwakili oleh lagu pop Sunda ini menjadikan pendengarnya larut dalam keindahan.

Lagu Pop Sunda '60-an
Seiring perkembangan zaman, lagu pop Sunda, penyanyi, hingga penciptanya mengalami regenerasi. Sesuai apa yang disampaikan Eddy D. Iskandar dalam artikelnya "Menyibak Perkembangan Lagu Pop Sunda", pada tahun enam puluhan, sudah dikenal istilah lagu pop Sunda, bisa disebut lagu pop Sunda yang sukses, seperti lagu-lagu yang dibawakan grup band Nada Kencana “Oray Orayan” dan “Yaomal Qiyamah”, atau lagu yang dinyanyikan Mus DS “Bulan Dagoan”, Rudi Rusadi “Borondong Garing”, Etty Barjah “Bajing Luncat”, Tati Saleh “Hariring Kuring”, Euis Komariah “Cikapudung”, Nenny Triana “Kutud”, Lilis Suryani “Cai Kopi”, “Cing Tulungan”, Tuty Subardjo “Anteurkeun”, juga lagu-lagu legendaris “Sorban Palid”, “Es Lilin”, “Mojang Priangan”, “Bubuy Bulan”, “Manuk Dadali”, dan “Badminton”.

Pencipta lagu yang melahirkan lagu-lagu (pop) Sunda legendaris itu, antara lain Kosaman Jaya, Mang Koko, Sambas, Iyar Wiyarsih, Djuhari, dan Benny Corda.

 Lagu Pop Sunda '70 sampai 90-an
Tahun tujuh puluhan, Wandi dan Bimbo juga sempat mencuat dengan lagu-lagu pop Sunda, bahkan di antaranya lagu pop Sunda yang kocak. Selanjutnya, salah satu puncak sukses bisnis lagu pop Sunda, ketika kaset lagu “Kalangkang” ciptaan Nano S. yang dinyanyikan Nining Meida, mampu mencapai omzet fantastis, lebih dari satu juta keping. Sukses yang sama, sebelumnya pernah diraih oleh lagu wanda jaipongan “Daun Pulus” dan “Serat Salira”, ciptaan Gugum Gumbira.

Tahun 1980 hingga tahun 1990, saat itu boleh dibilang masa suburnya lagu pop Sunda. Kala itu, lagu-lagu pop Sunda biasa diperdengarkan di radio-radio. Belum lagi dengan kehadiran TVRI Bandung yang rutin menayangkan program sajian lagu Sunda. Pada era ini, Nining Meida menjadi diva pops Sunda yang selalu sukses melahirkan album-album Sunda yang laris di Pasaran. Lagu "Kalangkang", "Potret Manehna", "Mojang Priangan", "Jol", dan yang lainnya mampu diterima masyarakat. Wanita penyanyi lainnya ada juga Detty Kurnia. Bahkan, soundtrack sinetron pun ikut meramaikan khazanah lagu pop Sunda, seperti Inohong di Bojongrangkong.

Tak ketinggalan, sang fenomena Darso merajai lagu-lagu pop Sunda dengan lagu-lagunya seperti: "Cucu Deui", "Maripi", dan sebagainya. Eksistensi Darso bahkan berlanjut hingga ia wafat. Penyanyi dan pencipta lagu sekaliber Doel Sumbang pun sukses ketika menelorkan lagu-lagu pop Sunda. Lagu "Somse", "Ai", “Pangandaran”, "Bulan Batu Hiu" dan yang lainnya sangat digemari masyarakat penikmat lagu Sunda. Doel juga banyak mencipta lagu untuk penyanyi Sunda lainnya, apakah itu Hendarso alias Darso, Barakatak, dan Nining Meida.

Bahkan artis Hetty Koes Endang, dengan kekuatan vokalnya, mampu memopulerkan lagu pop Sunda seperti “Cinta”, dan “Emut Bae”. Sukses yang sama juga dialami lagu “Cinta Ketok Magic” ciptaan Nano S. yang dialunkan penyanyi dangdut terkenal Evie Tamala. Pada masa ini, penyanyi dan aktris Paramitha Rusady pun sempat mencicipi manisnya lagu Sunda seiring ketenaran film "Si Kabayan Saba Kota".

Lagu Pop Sunda pada Era tahun 2000 - Sekarang
Inilah masa dimana munculnya pendatang-pendatang baru. Penyanyi wanita dan laki-laki banyak memunculkan lagu pop Sunda dengan ciri masing-masing. Sebut saja Rika Rafika, Rita Tila, Yayan Jatnikan, Asep Darso, dan penyanyi lainnya yang "menyerbu" pasaran album-album Sunda. Sementara para "senior" seperti Doel Sumbang, Nining Meida, dan Darso masih tetap eksis mengeluarkan album.

Seiring perkembangan teknologi, ada dua dampak yang terasa yakni mudahnya penyebaran lagu lewat berbagai media (mp3, DVD, online). Namun, di sisi lain inilah  masa ketika lagu pop Sunda seakan mulai kehilangan roh. Lihat saja di TV-TV lokal yang menayangkan videoklip lagu Sunda, seakan jauh dari konsep ideal seperti dulu. Penyanyi ada saja yang suaranya pas-pasan langsung mengeluarkan album. Videoklip pun dibuat sekadarnya. Kehebatan pengolahan dengan teknologi seakan menasbihkan siapa saja bisa membuat album pop Sunda.

Belum lagu masalah yang klasik yakni pembajakan, mengakibatkan lagu-lagu Sunda era kekikinian seakan meredup. Gairah lagu Sunda jauh dengan era '80-'90-an. Mudahnya pembajakan dengan kecanggihan teknologi menjadikan lagu-lagu Sunda: edar pagi, sore sudah ada bajakannya. Mau tak mau ini mengganggu sisi kreativitas. Maklumlah musuh utama mereka yang bekerja di ranah kreatif adalah unsur penghargaan. Sementara masalah pembajakan adalah penghinaan terhadap suatu karya. Jadi, bagaimana nasib lagu Sunda di era serba instant sekarang ini?