Wisata Jabar

Sejarah di Balik Kelezatan Tahu Sumedang





Kalau ke Sumedang, rasanya kurang "sah" kalau tidak membeli kuliner dari kota tetanggga di timur Bandung tersebut. Ya, tahu sumedang merupakan kuliner khas yang wajib dibeli jika sedang berkunjung ke Sumedang. Tukang tahu sumedang sudah menyebar dimana-mana, bahkan hingga ke luar kota Sumedang sendiri. Lihatlah dari Anda keluar tol Cileunyi, Jatinangor, hingga ke arah Sumedang sendiri di pinggir jalan banyak yang jualan tahu yang dikenal nikmat dan gurih ini. Tahu ini enak disantap saat panas-panas sambil dicocol dengan sambal kecap atau langsung dengan cabe plus lontong.

Kenikmatan rasa tahu ini yakni setelah digoreng dengan bumbu yang sama, menghasilkan bentuk yang berbeda dari tahu goreng biasanya. Sisa dari penggumpalan tahu disebut larutan biang yang disimpan selama 2–3 hari, yang prosesnya menggunakan asam cuka. Tahu ini bisa mengalami perubahan rasa setelah beberapa jam dibeli jika dibuat secara tradisional, kedelai asli tanpa pengawet. Rasa gurih berubah menjadi asam, kulit yang garing menjadi liat.

Sejarah Tahu Sumedang
Tahu berasal dari kata China yaitu Tao Hu (Tao: Kacang, Hu: Lumat [kacang yang di lumatkan]).  Sejarah tahu sumedang berawal dari tahun 1900. Ialah imigran asal China/Tiongkok bernama Ong Kino menginjakkan kakinya di kota Sumedang, Jawa Barat. Di negeri asalnya, Ong Kino biasa membuat tahu dan di tempat pengembaraannya kini ia praktikan di tempat pangumbaraannya tersebut. Pada awalnya ia membuat tahu tersebut hanya untuk konsumsi keluarga.

Ong Kino mempunyai anak yang bernama Ong Bung Keng. Ong Bung Keng pada 1917 meneruskan usaha ayahnya tersebut dengan bekerja keras. Di tangan Ong Bung Keng usaha tahu milik ayahnya berkembang pesat sehingga Ong Bun Keng lebih dikenal sebagai cikal bakal tahu Sumedang. Rumah makan Bung Keng menjadi sentra kuliner tahu yang terkenal di Sumedang hingga kini.

Ada kisah menarik mengapa tahu sumedang kemudian menjadi kuliner yang disukai masyarakat. Kono sekitar tahun 1928, suatu hari rumah Ong Bung Keng didatangi oleh Bupati Sumedang, Pangeran Soeria Atmadja yang kebetulan tengah melintas dengan menggunakan dokar dalam perjalanan menuju Situraja, Sumedang. Kebetulan, sang Pangeran melihat seorang kakek sedang menggoreng sesuatu. Pangeran Soeria Atmadja langsung turun begitu melihat bentuk makanan yang amat unik serta baunya yang harum.

Sang bupati, Pangeran Soeria Atmadja kemudian bertanya kepada sang kakek,
"Koh, keur ngagoreng naon?" (Koh, sedang menggoreng apa?)
Ong Bung Keng berusaha menjawab sebisanya dan menjelaskan bahwa makanan yang ia goreng berasal dari tahu. Karena penasaran, sang Bupati langsung mencicip satu. Setelah mencicipi, Bupati secara spontan berkata dengan wajah puas:
"Ngeunah pisan ieu kadahareun teh! Coba mun dijual pasti payu!" (Enak benar masakan ini! Coba kalau kamu jual, pasti laris!). Tak lama setelah kejadian ini, tahu ini pun digemari oleh penduduk Sumedang dan kemudian sampai ke seluruh Indonesia.